Ambar Arum Putri Hapsari
mahasiswa Universitas STEKOM, BERITA CINTAMenulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
Di tengah dunia yang serba cepat dan penuh label, hubungan platonik sering dianggap nanggung. Tidak pacaran, tapi dekat. Tidak romantis, tapi peduli. Banyak yang bertanya, sebenarnya seberapa perlu sih menjaga hubungan platonik?
Jawabannya, perlu banget. Hubungan platonik adalah relasi emosional yang sehat tanpa ketertarikan romantis atau seksual. Bisa berupa persahabatan, rekan kerja, atau dua orang yang saling terhubung secara mental. Dan justru di sinilah nilainya.
Hubungan platonik memberi ruang aman untuk jadi diri sendiri. Tidak ada tuntutan posesif, tidak ada cemburu berlebihan, tidak ada ekspektasi harus selalu hadir. Kamu bisa cerita capek tanpa takut dianggap manja, bisa diam tanpa dituduh berubah.
Banyak orang tidak sadar bahwa hubungan romantis yang sehat sering lahir dari fondasi platonik yang kuat. Dari obrolan jujur, saling menghargai, dan rasa aman tanpa tekanan. Bahkan jika tidak pernah berubah jadi cinta, hubungan ini tetap punya peran penting dalam hidup.
Menjaga hubungan platonik juga membantu kita tidak menggantungkan seluruh kebutuhan emosional pada pasangan. Ini penting, karena tidak sehat jika satu orang harus jadi segalanya.
Masalah muncul saat batas mulai kabur. Salah satu pihak berharap lebih, sementara yang lain tetap di zona aman. Atau saat lingkungan ikut menekan dengan pertanyaan klasik, kalian sebenarnya apa sih.
Hubungan platonik butuh kejelasan dan kedewasaan. Tanpa komunikasi yang jujur, hubungan ini bisa berubah jadi sumber luka. Bukan karena platoniknya salah, tapi karena ekspektasi yang tidak pernah dibicarakan.
Selain itu, ego juga sering merusak. Saat salah satu merasa paling dibutuhkan, atau mulai mengontrol, hubungan platonik kehilangan esensinya.
Hubungan platonik perlu dijaga selama masih sehat, seimbang, dan saling menghormati. Saat hubungan ini memberi rasa aman, dukungan, dan ruang bertumbuh, itu tanda relasi yang baik.
Tapi jika mulai membuat bingung, lelah, atau menyimpan harapan sepihak, mungkin yang perlu dijaga bukan hubungannya, tapi diri sendiri.
Intinya, tidak semua hubungan harus berujung cinta. Ada relasi yang hadir untuk menemani, menguatkan, dan mengajarkan bahwa kedekatan tidak selalu harus dimiliki.
Di dunia yang sering mengukur nilai hubungan dari status, menjaga hubungan platonik adalah bentuk kedewasaan emosional. Karena koneksi yang sehat tidak selalu berbentuk romantis, tapi selalu berbentuk saling menghargai.