Ambar Arum Putri Hapsari
mahasiswa Universitas STEKOM, BERITA CINTAMenulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
Hubungan percintaan toxic bukan cuma urusan dua orang yang pacaran, tapi juga menyentuh peran orang tua. Banyak anak terjebak dalam hubungan yang melelahkan secara mental, tapi memilih diam karena takut dimarahi, disalahkan, atau dianggap bodoh. Padahal di momen seperti ini, orang tua justru punya posisi paling penting.
Anak yang berada dalam hubungan toxic sering tidak sadar bahwa dirinya sedang disakiti. Manipulasi, gaslighting, posesif, hingga kontrol berlebihan sering dibungkus atas nama cinta. Dari luar terlihat jelas, tapi dari dalam rasanya rumit. Dan di sinilah peran orang tua diuji, mau jadi hakim atau jadi rumah.
Kesalahan paling umum adalah reaksi spontan. Kalimat seperti “Mama sudah bilang kan” atau “Makanya jangan pacaran” justru membuat anak menutup diri. Saat anak bercerita, itu tanda dia sedang mencari pertolongan, bukan ceramah.
Orang tua perlu jadi pendengar aktif. Biarkan anak bercerita dengan versinya sendiri, tanpa dipotong, tanpa disimpulkan buru-buru. Validasi perasaannya dulu. Bukan membenarkan hubungan toxic-nya, tapi mengakui bahwa apa yang dia rasakan itu nyata.
Dengan merasa didengar, anak akan lebih terbuka untuk melihat masalahnya secara perlahan.
Peran orang tua bukan memutuskan hubungan anak secara paksa, tapi membantu anak menyadari pola yang tidak sehat. Jelaskan ciri-ciri hubungan toxic dengan bahasa yang membumi, bukan menakut-nakuti. Contohnya, cinta tidak membuat takut kehilangan diri sendiri, cinta tidak mengisolasi dari teman dan keluarga.
Orang tua juga perlu menahan diri untuk tidak mengontrol berlebihan. Larangan keras sering kali justru membuat anak makin bertahan, karena merasa hanya pasangannya yang mengerti. Edukasi yang konsisten jauh lebih efektif daripada ancaman.
Kalau perlu, ajak anak berdiskusi tentang batas sehat dalam hubungan. Tanyakan pendapatnya, bukan hanya memberi aturan.
Keluar dari hubungan toxic itu tidak instan. Ada fase ragu, takut, bahkan ingin kembali. Di fase ini, peran orang tua adalah memastikan anak tidak sendirian. Dukung keputusannya, sekecil apa pun langkahnya.
Jika kondisi mental anak sudah terganggu, orang tua juga perlu terbuka pada bantuan profesional. Konselor atau psikolog bukan tanda kegagalan mendidik, tapi bentuk tanggung jawab dan kasih sayang.
Yang paling penting, tunjukkan bahwa cinta di rumah tidak bersyarat. Anak perlu tahu bahwa apa pun yang terjadi, dia tetap diterima, dihargai, dan dicintai.
Karena sering kali, yang membuat anak bertahan di hubungan toxic bukan cintanya, tapi ketakutan kehilangan satu-satunya tempat aman. Jangan sampai rumah kalah nyaman dari hubungan yang menyakitkan.