Ambar Arum Putri Hapsari
mahasiswa Universitas STEKOM, BERITA CINTAMenulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
Ghosting sudah lama jadi musuh bersama dalam dunia percintaan modern. Tiba-tiba hilang, tidak ada kabar, tidak ada penjelasan. Tapi belakangan, muncul istilah baru yang katanya lebih menyakitkan dari ghosting, yaitu curving. Banyak yang bilang, lebih baik ditinggal sekalian daripada digantung setengah hidup.
Curving adalah kondisi ketika seseorang masih membalas chat, tapi dingin. Masih ada, tapi terasa tidak hadir. Tidak benar-benar pergi, tapi juga tidak benar-benar tinggal. Dari luar kelihatannya aman, padahal dari dalam bikin lelah.
Lalu pertanyaannya, emang iya curving lebih menyakitkan dari ghosting?
Curving terjadi saat seseorang sengaja menjaga komunikasi seminim mungkin. Chat dibalas lama, singkat, tanpa emosi. Janji ketemu selalu ditunda. Perhatian dikasih secukupnya, tapi tidak pernah utuh. Kamu tidak ditinggalkan, tapi juga tidak dipilih.
Yang bikin curving terasa kejam adalah harapan palsu. Kamu terus bertanya-tanya, dia sibuk atau memang berubah. Kamu mencari-cari alasan untuk membenarkan sikapnya. Berbeda dengan ghosting yang jelas, curving membuatmu bertahan di zona abu-abu.
Secara mental, ini melelahkan. Kamu masih menunggu, masih berharap, masih memberi ruang. Padahal di sisi lain, dia sudah setengah jalan pergi.
Ghosting itu brutal tapi cepat. Sakitnya langsung, jelas, dan tidak berlarut-larut. Kamu tahu dia pergi, meski tanpa pamit. Setelah itu, kamu bisa mulai proses move on, meski dengan luka.
Curving beda cerita. Sakitnya pelan-pelan. Kamu tidak punya alasan kuat untuk pergi, karena secara teknis dia masih ada. Tapi setiap hari kamu merasa kurang, tidak diinginkan, dan dipertanyakan.
Banyak orang justru kehilangan rasa percaya diri karena curving. Mereka mulai menyalahkan diri sendiri, merasa kurang menarik, kurang penting, atau terlalu menuntut. Padahal masalahnya bukan di kamu, tapi di orang yang tidak berani jujur.
Jawabannya relatif, tapi bagi banyak orang, iya. Curving lebih menyakitkan karena memperpanjang luka. Ia membuat seseorang terjebak di hubungan yang tidak ke mana-mana. Tidak bisa maju, tapi juga tidak benar-benar selesai.
Kalau kamu sedang mengalaminya, ingat satu hal. Hubungan yang sehat tidak membuatmu menebak-nebak posisi. Perhatian yang tulus tidak datang setengah-setengah. Jika kamu terus merasa sendirian padahal tidak sendiri, mungkin itu tanda untuk berhenti.
Kadang, kehilangan yang jelas jauh lebih baik daripada kehadiran yang setengah hati.