Ambar Arum Putri Hapsari
mahasiswa Universitas STEKOM, BERITA CINTAMenulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
Bertengkar dalam hubungan itu wajar. Bahkan pasangan paling bucin sekalipun pasti pernah beda pendapat. Tapi masalahnya bukan pada pertengkarnya, melainkan pada kata-kata yang keluar saat emosi lagi di puncak. Sekali terucap, beberapa kalimat bisa ninggalin luka yang lama sembuhnya.
Biar pertengkaran tidak berubah jadi bom waktu, ini tiga hal yang sebaiknya jangan pernah kamu katakan saat bertengkar dengan kekasihmu.
Kalimat yang diawali dengan kamu selalu atau kamu tidak pernah terdengar sepele, tapi efeknya besar. Kata-kata ini langsung menghapus semua hal baik yang pernah pasanganmu lakukan. Dia tidak lagi merasa sedang membahas satu masalah, tapi seolah seluruh dirinya sedang dihakimi.
Alih-alih bikin pasangan paham, kalimat ini justru memancing sikap defensif. Ujung-ujungnya, pertengkaran melebar ke mana-mana dan inti masalahnya hilang.
Saat emosi, mulut sering lebih cepat dari otak. Membandingkan pasangan dengan orang lain, apalagi mantan, adalah salah satu hal paling menyakitkan. Kalimat seperti mantanku dulu tidak pernah begini atau orang lain saja bisa bikin rasa aman pasangan runtuh seketika.
Perbandingan bukan solusi. Itu hanya membuat pasangan merasa tidak cukup dan tidak dihargai. Luka dari kalimat seperti ini sering bertahan jauh lebih lama daripada masalah awalnya.
Mengucapkan kata putus saat marah mungkin terasa melegakan sesaat. Tapi ancaman seperti ini membuat hubungan terasa tidak aman. Pasangan akan merasa setiap konflik bisa berujung perpisahan, dan ini melelahkan secara emosional.
Hubungan yang sehat butuh rasa aman, bukan ketakutan ditinggalkan setiap kali ada masalah. Jika kata putus terlalu sering diucapkan, lama-lama maknanya jadi kosong atau justru jadi kenyataan.
Bertengkar seharusnya jadi ruang untuk saling memahami, bukan ajang saling melukai. Menahan satu kalimat menyakitkan jauh lebih dewasa daripada memenangkan argumen.
Karena dalam hubungan, yang paling penting bukan siapa yang benar, tapi bagaimana tetap saling menjaga, bahkan saat sedang marah.