Ambar Arum Putri Hapsari
mahasiswa Universitas STEKOM, BERITA CINTAMenulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
Aku nulis ini bukan karena masih sakit. Tapi karena kadang kalau diingat, rasanya seperti mimpi buruk yang pernah benar benar terjadi di hidupku.
Selama pacaran sama dia, aku bukan tipe cowok yang main main. Aku kerja, nabung, mikirin masa depan. Bahkan keluarganya pun sudah aku anggap seperti keluargaku sendiri. Kalau dia butuh apa apa, aku usahakan. Kalau dia sedih, aku yang paling panik. Intinya, aku benar benar serius.
Aku sibuk kumpulin modal buat jenjang yang lebih jelas. Biar suatu hari nanti aku bisa datang ke rumahnya bukan cuma sebagai pacar, tapi sebagai seseorang yang punya niat baik.
Tapi ternyata, di saat aku sibuk membangun masa depan, dia sibuk merusaknya diam diam.
Hari itu sebenarnya tidak ada firasat apa apa. Aku cuma ingin kasih kejutan kecil. Aku datang ke kosannya tanpa bilang. Kupikir dia bakal senang. Aku bahkan bawa makanan kesukaannya.
Sampai aku berdiri di depan pintu kos itu, dan mendengar suara yang tidak seharusnya kudengar, paham lah kak apa yang terjadi.
Awalnya aku denial. Mungkin cuma salah dengar. Mungkin cuma temannya datang. Tapi suara itu terlalu jelas. Suara berbisik, tawa kecil, suara kasur yang bergerak pelan. Dadaku langsung sesak. Tanganku gemetar waktu ketuk pintu. Tidak ada jawaban.
Aku ketuk lagi, lebih keras.
Baru beberapa detik kemudian pintu dibuka. Dan di situlah semuanya terasa seperti adegan film yang terlalu nyata.
Dia berdiri di depanku dengan wajah panik, rambut berantakan, pakaian tidak rapi. Di belakangnya, ada cowok lain yang langsung ambil tas dan kabur tanpa berani menatap wajahku.
Iya. Dia kabur.
Dan yang bikin aku tidak habis pikir, cewekku malah langsung nangis histeris. Seolah olah dia yang paling tersakiti di situ. Seolah olah aku yang datang merusak sesuatu.
Dia bilang aku tidak pengertian. Dia bilang aku jarang ada waktu. Dia bilang dia kesepian.
Di situ aku benar benar kehilangan rasa marah. Yang ada cuma kosong. Hampa. Seperti semua usaha yang selama ini aku lakukan tidak ada artinya sama sekali.
Aku tidak teriak. Tidak marah. Tidak bikin keributan. Aku cuma bilang satu kalimat pendek.
Setelah itu aku pergi. Dan sejak hari itu, aku benar benar tidak pernah menghubunginya lagi.
Uang tabungan yang tadinya mau kupakai buat masa depan kami, akhirnya kupakai buat hal yang jauh lebih berguna. Buat diriku sendiri. Buat keluargaku. Buat hal hal yang jelas menghargai keberadaanku.
Jujur, kejadian itu bikin aku jadi sedikit trust issue. Jadi lebih hati hati. Jadi lebih sulit percaya sama orang.
Tapi di sisi lain, aku juga bersyukur. Karena kalau kejadian itu tidak terjadi, mungkin aku akan melangkah lebih jauh dengan orang yang salah.
Sekarang aku cuma fokus hidupku. Pelan pelan memperbaiki diri. Belajar lagi percaya. Dan berharap, suatu saat nanti aku ketemu orang yang benar benar menghargai niat baik yang aku punya.
Doakan aku selalu bisa sabar.