Ambar Arum Putri Hapsari
mahasiswa Universitas STEKOM, BERITA CINTAMenulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
Judul ini terdengar seperti bercanda, tapi inilah kisah nyata yang cukup menantang dan jujur saja agak memalukan. Awalnya sederhana. Anaknya suka aku. Aku datang, ngobrol, duduk manis, pura-pura fokus sama cowonya. Tapi entah kenapa, yang selalu mencuri perhatian justru bapaknya.
Bapaknya tipe yang bikin orang refleks merapikan rambut. Rambut disemir rapi, badan masih kekar, pembawaan tenang tapi berwibawa. Bukan yang sok muda, tapi justru kelihatan keren karena kelihatan terawat. Setiap datang ke rumah itu, fokusku bukan lagi ke cowonya, tapi ke arah ruang tamu, nunggu bapaknya muncul sambil senyum tipis.
Dan aku akui, ini hal yang cukup menantang. Menjaga ekspresi tetap waras saat hati diam-diam kagum itu perjuangan.
Lucunya, aku sadar kalau ke sana bukan karena ingin benar-benar bersama cowonya. Chat biasa saja, ketemu pun biasa saja. Tapi begitu ada rencana main ke rumah, semangatku naik dua tingkat. Alasannya jelas, aku ingin lihat bapaknya.
Aku tahu ini salah sasaran rasa. Tapi perasaan itu datang tanpa permisi. Yang bikin makin absurd, istrinya tahu kalau aku kagum sama suaminya. Entah dari sikapku yang terlalu antusias atau tatapan yang kurang bisa disembunyikan. Tapi reaksinya santai. Biasa saja. Tidak cemburu, tidak sinis, seolah berkata dalam hati, iya suamiku memang begitu.
Di titik itu aku merasa kalah kelas. Istrinya tenang, bapaknya tetap keren, dan aku cuma penonton yang salah tempat.
Semua berakhir saat anaknya punya cewe. Di situlah logika akhirnya menang. Masa aku masih minta main ke rumahnya, sementara statusku bukan siapa-siapa dan dia sudah punya pasangan. Rasanya tidak etis, walau alasanku sebenarnya juga tidak mulia.
Sekarang aku tidak bisa melihat beliau lagi. Tidak ada lagi momen duduk di ruang tamu sambil pura-pura main HP tapi sebenarnya mengamati. Sedikit sedih, tapi juga lega. Karena beberapa rasa memang cukup dikagumi, tidak untuk dimiliki.
Maksud dari cerita ini adalah kagum, tapi salah sasaran. Kadang hidup memang suka bercanda. Kita datang karena satu orang, tapi jatuh kagum pada sosok yang seharusnya tidak kita pikirkan.
Tenang saja, aku sudah move on hehehe. Tapi kalau suatu hari nanti aku ketemu lagi bapak sekeren itu, semoga statusnya masih aman dan aku tetap tahu diri.