Berita Cinta adalah sumber terpercaya untuk informasi, tips, dan cerita inspiratif tentang dunia percintaan. Temukan panduan hubungan, kisah romantis, dan solusi masalah asmara hanya di sini.

Romansa Hari Ini

Hard Launching, Momen Resmi Ngenalin Pasangan ke Publik dengan Bangga
No Closure Club, Tempat untuk Mereka yang Pernah Ditinggal Tanpa Penjelasan
Soft Launching, Cara Halus Ngenalin Pasangan ke Publik Tanpa Heboh
Closure, Langkah Terakhir untuk Menyembuhkan Diri dari Hubungan yang Usai
Mutual Feeling, Ketika Rasa Suka Tak Lagi Bertepuk Sebelah Tangan
Clingy dalam Hubungan, Antara Kasih Sayang dan Ketergantungan Emosional
Kisah Nyata

Komitmen 1 Tahun, Endingnya Jadi Tamu Undangan

Komitmen 1 Tahun, Endingnya Jadi Tamu Undangan
0

Halo, namaku Arunika Jingga Nareswari, nama dunia fantasiku. Saat ini, aku sedang menjalani dua peran, sebagai mahasiswi penerima beasiswa di sebuah universitas swasta di Semarang, Jawa Tengah, dan juga sebagai karyawan di sebuah perusahaan iklan. 
Di kampus, aku dikenal cukup aktif, terutama dalam grup perkuliahan tempat berbagai informasi dan tugas dibagikan. Namun, kisah ini dimulai dari sebuah pesan tak terduga, dari nomor yang sama sekali tak kukenal. Suatu sore di awal semester pertama, ketika aku sedang sibuk menyelesaikan tugas-tugas kuliah, sebuah pesan masuk dari nomor asing berawalan +81. Setelah kucari tahu, ternyata itu nomor dari Jepang. Pikirku saat itu, mungkin dia seorang TKI yang juga kuliah di kampus yang sama, karena setelah kucek, kami memang berada dalam satu grup perkuliahan.

Dia mengawali percakapan dengan sapaan hangat “Assalamualaikum, perkenalkan aku Arif dari jurusan…” Aku pun membalasnya. Rupanya, dia menanyakan tentang tugas matematika bisnis yang baru dibagikan dosen. Kutegaskan bahwa tugas itu hanya untuk cabang lain, dan cabang kami tidak perlu mengerjakannya. Ternyata, dia sudah menyelesaikannya, padahal tugasnya baru dibagikan siang itu. “Rajin sekali,” pikirku. “Matematika lagi… kalau aku, sudah pusing duluan.”

Kedekatan yang Tumbuh Perlahan

Dari percakapan sederhana itu, kami mulai saling mengenal. Dugaan ku ternyata benar, Arif adalah seorang TKI yang telah bekerja di Jepang selama lima tahun.
Aku pun memperkenalkan diri sebagai perantau, meski hanya beda kota, tak sejauh dia di negeri sakura.

Waktu berjalan begitu cepat. Dari November 2024 hingga Agustus 2025, kami semakin dekat. Kami hampir setiap hari berkomunikasi via WhatsApp, meski berbeda zona waktu yang cukup jauh, jam 5 pagi saat aku baru bangun, dia sudah berangkat kerja. Kami bersama-sama menghadapi UTS, UAS, mengerjakan tugas, berdiskusi, hingga berbagi cerita tentang masa lalu dan rencana masa depan.
Oh ya, kami terpaut usia yang cukup jauh, dia 27 tahun, aku 19. Tapi, aku memang lebih tertarik dengan pria dewasa. Selain karena cara pikirnya yang cocok, itu juga memang tipeku, pria yang matang. dan aku juga pernah cerita ke dia, bahwa orang tua ku juga terpaut 10 tahun beda nya.

Pengakuan dan Batasan

Hingga suatu hari, dia mengungkapkan perasaannya padaku. Dia bilang ingin serius dan berkomitmen. Aku, yang masih berpegang pada prinsip untuk tidak terlibat dalam hubungan seperti pacaran, memutuskan untuk membuka hati dengan batasan, tidak perlu berkomunikasi setiap hari, cukup seperlunya, dan tetap dalam koridor pertemanan kuliah.

Aku akhirnya menerima niat seriusnya, tapi dengan syarat yang kubuat sendir, ini bukan pacaran. Komunikasi kita tetap akan kuwajar sebagai teman kuliah, tidak lebih. Sebuah komitmen yang kutentukan batas-batasnya sendiri.
Namun, beberapa hari setelah pengakuannya itu, foto profil WhatsApp-nya berubah menjadi gambar dirinya bersama seorang wanita, meski dikemas dalam gaya animasi Ghibli, aku tahu pasti itu dia. Spontan, aku memblokir nomornya. Dua bulan kemudian, kubuka kembali blokiran itu. 

Perpisahan yang Dilepas dengan Ikhlas

Ternyata, dia tidak bisa move on. dia masih menunggu ku sampai kapan pun, Dia terus menghubungiku. Untungnya, imanku masih kuat.
Aku tidak terlalu menggubris perasaannya. Akhirnya, aku memutuskan untuk mengirim pesan perpisahan

 *17.25* Okei mas, First of all, terima kasih untuk semua yang kamu berikan buat aku, terutama support dan effort-mu…

Dalam pesan itu, kusampaikan bahwa 

aku perlu waktu untuk fokus memperbaiki diri, dan jika memang jodoh, kita akan dipertemukan kembali di waktu yang tepat, dengan cara yang baik. aku melepaskan kamu karena Allah, dan jika suatu saat entah itu 3 atau 4 tahun lagi kamu dan aku udah siap, dan hati kamu masih untuk aku, kamu bisa Dateng ke aku, kita ta’aruf temuin orang tua aku dulu, namun jika 3 atau 4 tahun itu hati kamu bukan lagi untuk aku, aku pun ikhlas dan aku ga berharap ataupun menunggu kamu. Untuk saat ini aku minta tolong biarin aku untuk fokus memperbaiki diriku sendiri, tanpa ada siapapun yang mendekati, jangan takut aku deket sama yang lain ya mas, karena aku yakin orang itu cuma kamu, dan aku percaya bahwa yang terbaik, akan datang kepada yang baik, dengan cara yang baik.

Dia menerimanya dengan lapang dada.

Fakta yang Menampar dengan Pelan

Tapi, ternyata tidak berhenti di situ. Dia masih sering membalas status WhatsApp-ku, dan aku hanya membalas dengan sikap cuek. Dia juga terus menelepon, yang tidak pernah kuangkat, sampai suatu hari, karena kesal dan iseng, akhirnya kuangkat juga.
Kami berbicara setelah empat bulan tidak berkomunikasi. Kutanyakan klarifikasi tentang foto profil itu. Jawabannya berbelit dan tidak jelas. 

Setelah itu, semuanya tetap sama. Dia masih selalu membalas story-ku, sampai pada Agustus 2025, aku akhirnya membalasnya dengan kalimat pedas “Dasar buaya.”
Sejak itu, kami benar-benar tidak berkomunikasi lagi. Hingga tanggal 22 Desember, dia mengunggah foto bersama wanita yang sama, yang ternyata bekerja di Jepang. Aku pun penasaran. Setelah aku selidiki, wanita itu ternyata sering membuka TikTok-ku, bahkan hampir setiap hari menonton story-ku.

Rupanya, mungkin dia tahu aku pernah dekat dengan Arif dan menganggapku sebagai saingan. Penasaranku berlanjut. Kutelusuri lebih dalam, dan yang paling mengejutkan, aku menemukan undangan pernikahan mereka di internet. Rencana awalku hanya ingin tahu siapa wanita itu, tapi malah dapat fakta yang begitu menohok, mereka ternyata telah bertunangan pada September 2025, tepat satu bulan setelah aku dan Arif putus kontak, hatiku berdebar lebih kencang dari biasanya.
Di layar, terbentang sebuah desain undangan digital yang elegan. Nama mereka berdua terpampang jelas di sana, dengan tanggal yang menghantamku, 2 januari 2026. Rasanya seperti semua suara di sekelilingku menghilang. pernikahan? Hanya sebulan setelah kami terputus?

Keteguhan yang Tersisa

Dari sini, aku belajar satu hal, orang yang benar-benar serius akan bersedia menunggu dengan tulus.
Dan secara tidak langsung, Allah telah memberitahuku bahwa Arif bukanlah yang terbaik untukku. Saat melihat undangan itu, aku sempat kaget, tapi hati ini sudah ikhlas.

Dan sekarang, Arunika Jingga Nareswari, si mahasiswi perantau yang sibuk itu, tetap berdiri. Bukan dengan luka yang menganga, tapi dengan sebuah keteguhan baru. Aku belajar bahwa komitmen sejati bukan diucapkan di chat, tapi dibuktikan dengan kesetiaan waktu.
Dan kadang, tamu undangan terbaik adalah dirimu sendiri, yang selamat dari kisah yang salah. 

Terima kasih, Arif, atas pelajaran berharganya.
Dan terima kasih Ya Allah, atas perlindungan-Mu.

Foto profil Ambar Arum Putri Hapsari

mahasiswa Universitas STEKOM, BERITA CINTA

Menulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.

Related Post