Ambar Arum Putri Hapsari
mahasiswa Universitas STEKOM, BERITA CINTAMenulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
Aku tidak pernah bercita-cita hidup seperti ini. Tidak ada perempuan yang bangun pagi lalu berkata dengan yakin bahwa hari ini ia ingin diperlakukan seperti benda. Tapi hidup kadang tidak memberi pilihan yang adil. Aku terpaksa melakukan semua ini karena dunia yang memaksaku, bukan karena aku ingin.
Perempuan mana yang mau dan ikhlas dibawa ke sana kemari, disentuh, dipuji, lalu ditinggalkan tanpa pernah benar-benar dimiliki. Aku ada, tapi seperti tidak dianggap utuh. Bukan pasangan, bukan prioritas, hanya singgah sementara. Aku tahu ini menyakitkan, tapi saat itu aku lebih takut tidak bisa makan daripada takut kehilangan harga diri.
Kesalahan terbesarku adalah pergi dari rumah. Alasannya sekarang terdengar bodoh, bahkan memalukan kalau diingat. Emosi sesaat, ego yang terlalu besar, dan keyakinan palsu bahwa aku bisa hidup sendiri tanpa siapa pun. Nyatanya, aku memang hidup, tapi tidak benar-benar bernapas.
Menyesal sekarang juga aku bingung harus mulai dari mana. Hidupku sudah terlalu jauh melenceng. Akhirnya aku tetap menjadi cewe panggilan hampir tiga tahun lamanya. Awalnya terasa biasa saja. Bahkan terlihat menyenangkan. Uangku banyak, aku bisa beli apa saja, makan enak, tidur di tempat nyaman.
Aku menipu diriku sendiri dengan kalimat, yang penting hidup. Yang penting bertahan. Lagi pula aku tidak mencuri, tidak menyakiti siapa pun. Tapi aku lupa satu hal, aku pelan-pelan menyakiti diriku sendiri.
Semakin lama, semuanya terasa kosong. Tawaku palsu, senyumku otomatis. Aku mulai merasa asing dengan tubuhku sendiri. Aku hadir secara fisik, tapi jiwaku entah di mana. Aku mulai bertanya-tanya, sampai kapan aku sanggup menjalani ini.
Beberapa waktu terakhir ada yang aneh di hatiku. Aku sering bingung tanpa sebab, resah tanpa tahu kenapa. Bahkan saat melakukan pekerjaanku, aku sudah tidak selera. Sentuhan yang dulu terasa biasa, sekarang membuatku ingin pulang dan mandi lama-lama, seolah ingin menghapus sesuatu yang menempel.
Aku mulai rindu diriku yang dulu. Versi diriku yang punya mimpi sederhana, yang bisa tertawa tanpa bayaran, yang pulang ke rumah tanpa membawa rasa bersalah. Tapi semakin aku rindu, semakin aku sadar betapa jauhnya aku melangkah.
Aku ingin berhenti, tapi takut tidak punya apa-apa. Aku ingin pulang, tapi malu. Aku ingin berubah, tapi bingung harus mulai dari mana. Yang aku tahu, aku capek. Capek berpura-pura kuat, capek bilang baik-baik saja.
Mungkin suatu hari aku akan menemukan jalan pulang. Mungkin tidak sekarang. Tapi jika kamu membaca ini dan merasa relate, ketahuilah satu hal, kita bukan rusak. Kita hanya tersesat terlalu jauh.