Ambar Arum Putri Hapsari
mahasiswa Universitas STEKOM, BERITA CINTAMenulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
Aku Sena, lahir dari keluarga sederhana dan kini menempuh pendidikan keperawatan di salah satu politeknik negeri. Di desaku, jarang sekali ada perempuan yang melanjutkan pendidikan tinggi. Banyak orang menganggap kuliah bagi perempuan hanyalah hal yang percuma. Tapi aku bersyukur, orang tuaku selalu menanamkan pentingnya pendidikan.
Di desa kami, perjodohan masih sering terjadi. Namun, bukan perjodohan yang dipaksakan. Jika kedua belah pihak setuju, barulah dijalankan. Kakakku juga menikah lewat jalan itu. Bahkan, aku pun pernah dijodohkan saat masih kelas 3 SMK. Tapi kala itu aku menolak menanggapinya, karena fokusku ada pada sekolah dan harapan besar agar diterima melalui jalur SNBP di perguruan tinggi negeri. Doaku terkabul, aku diterima.
Beberapa waktu setelah lulus SMK, tepat tujuh hari pasca Idulfitri, tiba-tiba aku mendapat pesan dari nomor asing: “Minal aidin walfaizin, mohon maaf lahir dan batin.” Awalnya aku bingung siapa pengirimnya, ternyata dia adalah Fajar, laki-laki yang dulu dijodohkan denganku.
Fajar lahir tahun 2001, sedangkan aku tahun 2006. Selisih usia lima tahun tidak masalah bagiku, karena aku memang berharap mendapat pasangan yang lebih dewasa.
Sejak hari itu, kami mulai sering bertukar kabar, curhat panjang lebar, saling kirim foto, bahkan ia sering mengirim emotikon cinta. Aku mulai baper.
Fajar perhatian, selalu mengabariku ke mana pun ia pergi, kata-katanya meyakinkan, agamanya baik, pekerja keras, mapan, dan dikenal sebagai sosok yang terhormat di mata masyarakat. Sampai temanku berkata, “Dia itu cowok satu di antara seribu.” Aku benar-benar percaya dia tulus.
Namun, percakapan kami mulai serius ketika Fajar menanyakan apakah aku akan tetap kuliah. Aku jawab iya, sekitar tiga tahun.
Saat itu ia mengatakan, “Aku nggak bisa nunggu selama itu.” Hatiku mulai goyah.
Sejak pernyataan itu, komunikasi kami menurun, bahkan sempat hilang kontak. Tapi sesekali ia muncul kembali, berkomentar di statusku lalu memulai percakapan lagi. Ia sempat bilang kalau orang tuanya sudah tahu tentangku, bahkan ayahnya sempat menyinggung soal besanan dengan orang tuaku.
Tapi ayahku ragu, karena Fajar berasal dari keluarga kelas atas.
Di sisi lain, ia pernah berkata kepadaku, “Aku maunya kamu.” Kata-kata itu membuatku yakin lagi bahwa dia serius. Namun, keyakinan itu hanya sesaat. Tak lama, Fajar kembali menghilang.
Tiga hari setelah hilang kabar, Fajar mengunggah foto bersama seorang perempuan di Instagram Story. Hatiku hancur. Ia terus memamerkan kebersamaannya dengan perempuan itu. Hingga akhirnya, tepat seminggu setelah kami lost contact, ia resmi bertunangan. Ironisnya, pertunangan itu terjadi sehari setelah ulang tahunku. Padahal sebelumnya ia bilang ingin memberi hadiah di hari itu. Ternyata hadiahnya adalah kabar yang membuatku patah berkeping-keping.
Aku merasa ditinggalkan tanpa kejelasan. Dia datang dengan cara baik-baik, seharusnya bisa pula berpisah dengan cara yang sama. Tidak menghilang begitu saja lalu muncul dengan tunangan baru.
Beberapa waktu kemudian, ibuku bercerita bahwa kerabat Fajar mengatakan perempuan yang kini jadi tunangannya memang sudah dekat dengannya sejak lama. Dari situ aku sadar, mungkin Fajar mendekatiku hanya karena dorongan orang tuanya, bukan karena benar-benar mencintaiku.
Meski sakit, aku akhirnya bersyukur tidak menikah dengannya. Bagaimana jika aku hidup dengan seseorang yang berpura-pura mencintaiku? Seseorang yang masih dikendalikan orang tuanya? Luka ini membuatku sadar, kadang patah hati justru melindungi kita dari luka yang lebih dalam di masa depan.
Kini, aku memilih untuk fokus kuliah, mengejar cita-cita, dan membahagiakan orang tuaku. Fajar sudah berkeluarga, bahkan dikabarkan punya anak. Sementara aku tetap berjalan di jalanku, meyakini bahwa Tuhan punya rencana terbaik untukku.