Ambar Arum Putri Hapsari
mahasiswa Universitas STEKOM, BERITA CINTAMenulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
Pernah ketemu orang yang merasa semua sikap ramah adalah kode cinta? Senyum dikira kode. Basa basi dianggap perhatian khusus. Bahkan respons sopan saja sudah dianggap tanda suka. Fenomena ini sering disebut sebagai delusional love disorder dalam konteks psikologi populer.
Meski terdengar lucu di permukaan, kondisi ini sebenarnya bisa berdampak serius, baik untuk diri sendiri maupun orang lain.
Delusional love disorder adalah kondisi ketika seseorang meyakini secara kuat bahwa orang lain memiliki perasaan romantis padanya, padahal tidak ada bukti nyata. Dalam dunia psikologi klinis, kondisi ini sering dikaitkan dengan erotomania, yaitu gangguan delusi yang membuat penderitanya yakin sedang dicintai seseorang.
Yang membuatnya rumit, keyakinan ini sulit digoyahkan. Penolakan justru bisa ditafsirkan sebagai pura pura menolak atau bentuk menjaga citra. Akibatnya, batas sosial sering terlewati tanpa disadari.
Tidak semua orang yang kepercayaan dirinya tinggi mengalami kondisi ini. Bedanya, delusi tidak didasarkan pada realita, sementara percaya diri masih bisa menerima penolakan.
Salah satu tanda paling umum adalah mengartikan semua interaksi sebagai sinyal romantis. Balasan chat singkat dianggap kode. Sapaan ramah dikira perhatian khusus. Bahkan sikap profesional pun dianggap ada rasa.
Tanda lainnya adalah sulit menerima penolakan. Saat diberi batas, orang dengan kecenderungan ini bisa merasa bingung, marah, atau tetap yakin bahwa perasaannya dibalas diam diam.
Dalam hubungan sosial, ini sering dinormalisasi dengan label pede atau geer. Padahal jika berlebihan dan terus berulang, bisa mengganggu orang lain dan membuat situasi tidak nyaman.
Delusional love disorder bisa membuat seseorang terus menerus kecewa. Harapan dibangun di atas asumsi, lalu runtuh karena realita. Siklus ini melelahkan secara emosional.
Bagi orang lain, kondisi ini bisa terasa mengganggu bahkan menakutkan jika batas terus dilanggar. Hubungan sosial jadi renggang, dan stigma pun muncul.
Yang paling penting, kondisi ini bukan bahan candaan. Jika keyakinan sudah mengganggu fungsi hidup dan hubungan, bantuan profesional sangat dibutuhkan.
Menyukai diri sendiri itu sehat. Tapi mengira semua orang menyukaimu bukan tanda cinta diri, melainkan sinyal bahwa ada realita yang perlu diluruskan.
Karena cinta yang sehat selalu berbasis kesepakatan, bukan asumsi sepihak.