Ambar Arum Putri Hapsari
mahasiswa Universitas STEKOM, BERITA CINTAMenulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
Bahasa gaul merupakan cara generasi masa kini memberi nama pada situasi emosional yang sering dialami dalam hubungan. Tidak semua orang bertahan karena cinta yang kuat atau harapan besar. Ada kalanya seseorang tetap tinggal dalam hubungan hanya karena merasa terlalu lelah untuk memulai dari awal. Rasa nyaman yang hambar namun familiar sering kali terasa lebih aman dibanding harus menghadapi ketidakpastian baru. Dari kondisi inilah istilah dating inertia muncul.
Dating inertia berarti bertahan dalam hubungan karena malas atau enggan memulai ulang dari nol. Hubungan mungkin sudah tidak lagi membahagiakan, tetapi tetap dijalani karena terasa lebih mudah dibanding harus berpisah dan mencari yang baru. Inertia sendiri menggambarkan kondisi diam atau sulit bergerak, dan hal ini sangat relevan dengan situasi emosional tersebut.
Dalam dating inertia, seseorang sadar bahwa hubungan tidak berkembang. Komunikasi terasa datar, usaha berkurang, dan keintiman emosional menurun. Namun keputusan untuk pergi selalu tertunda karena memikirkan energi yang harus dikeluarkan untuk mengenal orang baru, membangun kepercayaan lagi, dan menghadapi kemungkinan gagal.
Dating inertia sering disalahartikan sebagai kesetiaan atau komitmen. Padahal, perbedaannya terletak pada niat dan perasaan. Kesetiaan tumbuh dari pilihan sadar untuk tetap berjuang, sementara dating inertia lebih didorong oleh kelelahan emosional dan ketakutan akan perubahan.
Dampak dating inertia bisa sangat halus namun merugikan. Seseorang perlahan kehilangan semangat dalam hubungan dan mulai menekan perasaan tidak puas. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menimbulkan rasa hampa, frustrasi, dan penyesalan karena waktu emosional terbuang dalam hubungan yang tidak lagi memberi makna.
Istilah dating inertia menjadi relevan di era modern karena proses kencan semakin kompleks. Aplikasi kencan, ekspektasi sosial, dan tekanan untuk menemukan pasangan ideal justru membuat banyak orang lelah sebelum benar benar memulai. Akibatnya, hubungan yang ada dipertahankan bukan karena bahagia, tetapi karena lelah menghadapi proses baru.
Perbedaan antara fase jenuh sementara dan dating inertia terletak pada durasi dan kesadaran. Jenuh biasanya disertai keinginan memperbaiki. Dating inertia terjadi ketika ketidakbahagiaan disadari namun diabaikan terus menerus.
Menghadapi dating inertia membutuhkan kejujuran pada diri sendiri. Bertanya apakah hubungan masih memberi ruang tumbuh atau hanya sekadar menghindari kesepian menjadi langkah awal yang penting. Mengambil jeda untuk refleksi bisa membantu melihat situasi dengan lebih jernih.
Memahami dating inertia membantu seseorang menyadari bahwa bertahan tidak selalu berarti kuat. Terkadang, keberanian justru terletak pada kesediaan untuk melepaskan dan memulai ulang demi kesehatan emosional yang lebih baik.