Ambar Arum Putri Hapsari
mahasiswa Universitas STEKOM, BERITA CINTAMenulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
Ghosting sering dianggap sepele. Katanya cuma tidak dibalas, cuma ditinggal tanpa kabar. Tapi bagi yang mengalaminya, ghosting bukan hal kecil. Kehilangan seseorang secara tiba-tiba, tanpa penjelasan, tanpa penutup, bisa meninggalkan luka yang jauh lebih dalam dari yang terlihat.
Banyak korban ghosting awalnya menyangkal perasaannya. Bilang ke diri sendiri, ah lebay, cuma chat doang. Padahal di dalam, pikiran terus muter. Salah aku di mana. Kurang baik ya aku. Atau dia memang nggak pernah anggap aku penting. Dari sini, masalah kesehatan mental pelan-pelan muncul.
Ghosting bisa memicu kecemasan berlebih. Korban jadi takut ditinggal lagi, takut berharap, bahkan takut membuka hati ke orang baru. Setiap notifikasi ditunggu, setiap pesan yang tidak dibalas terasa seperti penolakan ulang.
Selain cemas, banyak korban mengalami penurunan kepercayaan diri. Mereka merasa tidak cukup menarik, tidak layak diperjuangkan, atau terlalu mudah dibuang. Ini berbahaya, karena perlahan identitas diri ikut runtuh hanya karena sikap orang lain yang tidak bertanggung jawab.
Dalam kasus tertentu, ghosting juga bisa memicu depresi ringan hingga berat. Rasa sedih yang berlarut, sulit tidur, kehilangan minat pada hal-hal yang dulu menyenangkan, dan menarik diri dari lingkungan sosial adalah tanda-tanda yang sering muncul.
Yang bikin ghosting makin menyakitkan adalah tidak adanya validasi. Tidak ada penjelasan, tidak ada kata selesai. Luka dibiarkan terbuka tanpa kesempatan untuk sembuh dengan layak.
Manusia butuh kejelasan. Saat seseorang pergi tanpa alasan, otak akan terus mencari jawaban. Dan sayangnya, jawaban itu sering diarahkan ke diri sendiri. Padahal ghosting lebih banyak bicara soal ketidakdewasaan pelaku, bukan nilai diri korban.
Bagi generasi sekarang yang banyak membangun koneksi lewat chat dan media sosial, ghosting terasa sangat personal. Kedekatan terbangun lewat kata, perhatian, dan rutinitas. Saat itu semua hilang mendadak, rasa kehilangan tetap nyata, meski tanpa status resmi.
Kalau kamu pernah jadi korban ghosting, penting untuk tahu bahwa reaksimu valid. Kamu tidak lemah hanya karena merasa sakit. Yang perlu dilakukan adalah berhenti mencari penjelasan dari orang yang memilih diam, dan mulai memulihkan diri sendiri.
Bicara dengan orang terpercaya, menulis perasaan, atau mencari bantuan profesional bukan tanda berlebihan. Itu tanda kamu peduli pada kesehatan mentalmu.
Ingat, orang yang pergi tanpa penjelasan bukan kehilanganmu. Kamulah yang beruntung karena tidak terjebak lebih lama dengan seseorang yang tidak mampu bertanggung jawab secara emosional.