Ambar Arum Putri Hapsari
mahasiswa Universitas STEKOM, BERITA CINTAMenulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
Tidak semua kekerasan dalam rumah tangga dimulai dengan pukulan. Banyak kasus KDRT justru diawali dari hal hal kecil yang sering dianggap sepele. Kata katanya masih terdengar sayang, sikapnya terlihat protektif, tapi perlahan membuatmu kehilangan ruang, suara, dan kendali atas diri sendiri.
Artikel ini bukan untuk membuatmu takut menjalin hubungan, tapi untuk membantumu lebih peka. Karena cinta yang sehat tidak pernah membuatmu merasa terancam.
Salah satu ciri paling umum adalah kebutuhan mengontrol yang tinggi. Awalnya terlihat manis. Kamu dilarang pulang malam karena katanya khawatir. Diminta laporan tiap menit karena takut kehilangan. Pelan pelan, batas pribadimu menghilang.
Pasangan yang berpotensi KDRT sering merasa berhak mengatur hidupmu. Dari cara berpakaian, lingkar pertemanan, sampai keputusan kecil yang seharusnya milikmu sendiri. Saat kamu menolak, ia bisa marah atau memainkan peran korban.
Ini bukan cemburu yang wajar. Ini kontrol.
Perhatikan bagaimana ia bereaksi saat emosi. Apakah ia mudah meledak untuk hal sepele? Apakah setiap konflik selalu berakhir dengan kamu yang disalahkan?
Ciri lain yang perlu diwaspadai adalah ketidakmampuan mengelola emosi. Bentakan, hinaan, atau ancaman verbal sering dianggap bukan kekerasan. Padahal kekerasan emosional adalah pintu awal menuju kekerasan fisik.
Jika setelah marah ia berkata kamu yang memancing emosinya, itu red flag besar. Emosi seseorang adalah tanggung jawabnya sendiri, bukan tanggung jawab pasangannya.
Pasangan yang berpotensi KDRT sering merendahkan secara halus. Candaan yang menusuk. Komentar yang membuatmu merasa bodoh, lemah, atau tidak berharga. Lama kelamaan, kepercayaan dirimu runtuh.
Ia juga bisa menjauhkanmu dari orang orang terdekat. Membuatmu merasa teman dan keluargamu tidak peduli, tidak mengerti, atau berusaha merusak hubungan kalian. Saat kamu mulai merasa sendirian, di situlah ketergantungan terbentuk.
Ucapan seperti semua pasangan berantem atau namanya juga emosi sering dijadikan pembenaran. Padahal kekerasan bukan bagian normal dari cinta. Tidak pernah.
Jika kamu mulai merasa takut berbicara jujur, takut membuatnya marah, atau sering menyalahkan diri sendiri atas sikap kasarnya, dengarkan instingmu. Tubuh dan hatimu jarang berbohong.
Kamu pantas dicintai tanpa rasa takut. Jika ciri ciri ini terasa familiar, mencari bantuan bukan tanda lemah. Itu tanda kamu ingin hidup yang lebih aman dan sehat.