Ambar Arum Putri Hapsari
mahasiswa Universitas STEKOM, BERITA CINTAMenulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
Hubungan idealnya soal kerja sama.
Tapi bagaimana kalau keduanya sama-sama ingin memegang kendali?
Ketika saling dominan dalam hubungan terjadi, yang muncul bukan keseimbangan. Tapi tarik ulur kekuasaan.
Dan itu melelahkan.
Setiap diskusi terasa seperti kompetisi.
Siapa yang paling benar?
Siapa yang lebih pintar?
Siapa yang lebih berkuasa mengambil keputusan?
Alih-alih mencari solusi, kalian sibuk mempertahankan posisi.
Ego lebih besar dari empati.
Dalam hubungan sehat, mengalah bukan berarti kalah.
Tapi kalau dua duanya keras, tidak ada yang mau mundur.
Masalah kecil bisa jadi besar hanya karena tidak ada yang mau menurunkan nada suara atau membuka ruang kompromi.
Akhirnya hubungan terasa tegang terus-menerus.
Dominasi sering berkaitan dengan kontrol.
Kalau masing-masing ingin mengontrol arah hubungan, pasangan bisa merasa tidak didengar.
Keputusan diambil sepihak.
Pendapat dianggap remeh.
Perasaan tidak diprioritaskan.
Padahal rasa aman lahir dari dihargai, bukan dari ditundukkan.
Kalimat yang muncul bukan lagi
“Apa yang terbaik untuk kita?”
Tapi berubah jadi
“Pokoknya maunya aku begini.”
Lama-lama komunikasi bukan lagi tentang koneksi, tapi tentang pembuktian.
Hubungan jadi ruang debat, bukan ruang pulang.
Beberapa penyebab umum
Latar belakang keluarga yang keras
Takut kehilangan kontrol
Pengalaman disakiti di masa lalu
Atau kepribadian yang sama sama kuat
Masalahnya bukan pada karakter kuatnya.
Tapi pada ketidakmampuan menyeimbangkannya.
Bisa. Tapi hanya kalau ada kesadaran.
Dua orang dominan bukan berarti tidak cocok.
Justru bisa jadi pasangan yang solid jika keduanya belajar
Mendengar tanpa defensif
Mengalah tanpa merasa direndahkan
Berkompromi tanpa merasa kalah
Karena hubungan bukan tentang siapa yang memimpin terus.
Tapi tentang kapan harus maju dan kapan harus memberi ruang.
Pada akhirnya, cinta bukan soal siapa paling kuat.
Tapi siapa yang paling bijak mengelola ego?
Kalau terus saling dominan tanpa kompromi, hubungan hanya akan jadi arena perang kecil yang tak pernah selesai.
Dan cinta seharusnya tidak terasa seperti pertandingan.