Ambar Arum Putri Hapsari
mahasiswa Universitas STEKOM, BERITA CINTAMenulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
Aku laki-laki. Katanya harus kuat. Harus siap. Harus mapan. Harus bisa jadi sandaran.
Tapi tidak banyak yang tahu rasanya jadi sandwich generation. Di atas ada orang tua yang mulai menua dan makin bergantung. Di bawah ada adik yang masih butuh biaya dan perhatian. Di tengah? Aku. Berdiri pura-pura kokoh, padahal kadang goyah sendiri.
Aku punya pacar. Dia baik. Pengertian. Tidak banyak menuntut. Kami sudah cukup lama bersama sampai orang-orang merasa punya hak untuk bertanya satu hal yang sama.
“Kapan nikahin dia?”
Pertanyaan itu mungkin terdengar biasa. Bahkan terdengar seperti doa.
Tapi buatku, itu seperti alarm yang bunyinya tidak pernah berhenti di kepala.
Di kantor, situasinya tidak jauh lebih tenang. Target naik. Tekanan bertambah. Isu pengurangan karyawan mulai terdengar pelan-pelan seperti bisik-bisik yang tidak jelas, tapi cukup bikin jantung berdebar.
Aku harus tampil profesional. Harus terlihat stabil. Padahal tiap akhir bulan aku menghitung ulang angka di rekening, memastikan semuanya cukup.
Belum lama ini, adikku tiba-tiba sakit. Awalnya kami kira biasa. Ternyata butuh perawatan lama. Biaya jalan. Waktu terkuras. Tenaga habis.
Aku tidak pernah keberatan membantu keluarga. Mereka telah bekerja sekeras ini.
Tapi ketika semua beban datang bersamaan, rasanya seperti berdiri di tengah hujan deras tanpa payung.
Pacarku sebenarnya tidak pernah memaksa. Dia tidak pernah bilang harus sekarang. Dia tidak pernah mengancam untuk pergi.
Tapi kadang, di momen santai, dia bertanya dengan nada bercanda.
“Kapan sih kamu serius nikahin aku?”
Atau, “Teman aku aja sudah lamaran, kita kapan?”
Dia mungkin cuma ingin kepastian. Itu wajar.
Tapi setiap kali kalimat itu keluar, ada sesuatu yang langsung mengencang di dadaku. Otakku langsung berputar. Biaya nikah. Tempat tinggal. Tabungan. Biaya rumah sakit adik. Cicilan orang tua.
Aku tahu dia tidak bermaksud menekan. Aku tahu dia hanya ingin masa depan yang jelas.
Tapi bagiku, pertanyaan itu seperti membuka semua ketakutan yang selama ini aku sembunyikan.
Aku takut tidak cukup. Tidak cukup uang. Tidak cukup siap. Tidak cukup stabil.
Dan sebagai laki-laki, rasa takut itu sulit sekali diakui.
Kadang aku hanya tersenyum dan menjawab, “Doakan saja ya.”
Padahal setelah itu, aku bisa terdiam lama. Malam-malam sulit tidur. Menghitung ulang skenario hidup di kepala seperti film yang terus diputar ulang.
Aku ingin menikahinya. Bukan karena tekanan. Tapi karena memang ingin.
Hanya saja, aku ingin melakukannya dengan tenang. Tanpa rasa panik. Tanpa hutang besar. Tanpa meninggalkan keluargaku dalam kondisi setengah tertolong.
Aku frustrasi bukan karena dia. Tapi karena keadaan.
Aku sedang berusaha berdiri di banyak sisi sekaligus. Menjadi anak yang bertanggung jawab. Kakak yang bisa diandalkan. Karyawan yang tidak tergantikan. Dan pasangan yang meyakinkan.
Kadang aku lelah.
Tapi aku tetap jalan. Pelan pelan. Sambil berharap suatu hari nanti, ketika aku benar-benar siap menjawab pertanyaan itu, jawabannya bukan lagi karena tertekan.
Melainkan karena akhirnya aku bisa bilang dengan yakin, “Sekarang.”