Ambar Arum Putri Hapsari
mahasiswa Universitas STEKOM, BERITA CINTAMenulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
Bahasa gaul adalah cerminan perubahan cara manusia memahami dan memberi nama pada pengalaman emosionalnya. Dalam konteks hubungan asmara, istilah baru sering muncul untuk menjelaskan dinamika yang sebelumnya sulit didefinisikan secara jelas. Media sosial dan diskusi daring mempercepat penyebaran istilah ini karena banyak orang berbagi cerita pribadi dan mencari validasi. Salah satu istilah yang semakin sering dibahas adalah emotional cheating, sebuah bentuk perselingkuhan yang tidak melibatkan kontak fisik, tetapi tetap berdampak besar pada hubungan.
Emotional cheating digunakan untuk menggambarkan kondisi ketika seseorang menjalin kedekatan emosional dengan orang lain selain pasangannya. Kedekatan ini bisa berupa berbagi cerita pribadi, curhat intens, mencari dukungan emosional, atau merasa lebih terhubung secara batin dengan pihak ketiga. Meskipun tidak ada sentuhan fisik, hubungan emosional ini dapat melanggar batas kepercayaan dalam sebuah komitmen.
Banyak orang menganggap emotional cheating lebih sulit dikenali dibandingkan perselingkuhan fisik. Hal ini karena interaksi yang terjadi sering tampak wajar di permukaan. Namun tanda tandanya bisa dirasakan dari perubahan sikap, seperti lebih tertutup terhadap pasangan, sering berkomunikasi dengan orang tertentu, atau merasa bersalah tanpa alasan yang jelas. Kondisi ini perlahan menggerus kedekatan dalam hubungan utama.
Istilah emotional cheating menjadi penting karena menyoroti bahwa kesetiaan tidak hanya soal fisik. Hubungan yang sehat membutuhkan keterbukaan emosional dan rasa aman. Ketika kebutuhan emosional dipenuhi oleh orang lain, pasangan bisa merasa diabaikan dan tidak lagi menjadi tempat utama untuk berbagi. Dampaknya bisa sama menyakitkannya dengan perselingkuhan fisik.
Media sosial dan teknologi komunikasi turut memperbesar risiko emotional cheating. Pesan pribadi, obrolan panjang, dan interaksi intens secara daring dapat menciptakan ikatan emosional yang kuat tanpa disadari. Kedekatan yang awalnya terasa ringan bisa berkembang menjadi ketergantungan emosional jika tidak ada batasan yang jelas.
Menyadari keberadaan emotional cheating membantu pasangan untuk lebih waspada terhadap dinamika hubungan mereka. Komunikasi terbuka menjadi kunci utama untuk mencegahnya. Dengan membicarakan kebutuhan emosional, batasan, dan rasa tidak nyaman sejak awal, risiko perselingkuhan emosional dapat diminimalkan.
Pada akhirnya, emotional cheating sebagai istilah gaul membuka ruang diskusi yang lebih luas tentang makna kesetiaan. Istilah ini mengingatkan bahwa komitmen bukan hanya soal menjaga jarak fisik, tetapi juga tentang menjaga kedekatan emosional. Memahami konsep ini dapat membantu membangun hubungan yang lebih jujur, seimbang, dan saling menghargai.