Ambar Arum Putri Hapsari
mahasiswa Universitas STEKOM, BERITA CINTAMenulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
Dulu kalau bilang suka sama karakter 2D, orang bakal anggap itu cuma fase. Sekarang? Itu sudah jadi fenomena. Dari wallpaper ponsel sampai foto profil, karakter anime dan game jadi bagian dari identitas.
Dan yang menarik, bukan cuma suka biasa. Banyak anak muda merasa terikat secara emosional.
Aneh? Atau justru wajar di era sekarang?
Karakter 2D sering digambarkan dengan kepribadian yang jelas. Entah itu yang dingin tapi peduli, ceria tapi rapuh, atau misterius tapi setia. Sifatnya konsisten. Tidak berubah tiba-tiba.
Berbeda dengan manusia nyata yang kompleks dan kadang sulit ditebak, karakter 2D terasa stabil. Aman. Tidak menyakiti tanpa alasan.
Banyak anak muda yang merasa karakter ini lebih mudah dipahami. Bahkan terasa lebih suportif secara emosional.
Ketika dunia nyata terasa melelahkan, dunia fiksi menawarkan kenyamanan.
Perkembangan teknologi membuat interaksi dengan karakter 2D makin intens. Game interaktif, visual novel, live stream virtual, hingga AI berbasis karakter membuat batas antara fiksi dan realitas terasa tipis.
Anak muda tidak hanya menonton. Mereka berinteraksi. Mereka memilih dialog. Mereka merasa diperhatikan.
Secara psikologis, otak tetap merespons emosi itu sebagai pengalaman nyata. Jadi wajar jika keterikatan muncul.
Menyukai karakter 2D tidak selalu berarti antisosial. Banyak yang tetap punya kehidupan sosial sehat, pekerjaan, dan hubungan nyata.
Namun, ada juga yang menjadikan karakter 2D sebagai pelarian dari kekecewaan. Ketika hubungan nyata terlalu rumit, karakter fiksi terasa lebih sederhana dan tidak menuntut.
Selama kecintaan pada karakter 2D tidak menggantikan kemampuan membangun relasi nyata, itu hanyalah bentuk ekspresi diri dan hiburan.
Pada akhirnya, fenomena ini menunjukkan satu hal. Anak muda mencari koneksi emosional yang terasa aman dan konsisten.
Baik itu dari manusia nyata atau karakter 2D, kebutuhan dasarnya tetap sama. Ingin dimengerti. Ingin diterima.
Dan di dunia yang makin kompleks, tidak heran kalau sebagian hati menemukan kenyamanan di dunia dua dimensi.