Ambar Arum Putri Hapsari
mahasiswa Universitas STEKOM, BERITA CINTAMenulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
Awalnya terasa seperti mimpi. Baru kenal sebentar, tapi dia sudah bilang kamu beda dari yang lain. Chat tanpa henti. Pujian bertubi tubi. Janji masa depan, padahal baru hitungan minggu.
Kamu merasa spesial. Merasa dipilih. Merasa akhirnya menemukan orang yang tepat.
Tapi pelan-pelan, semuanya berubah.
Inilah yang disebut love bombing. Sebuah pola manipulatif di mana seseorang memberikan perhatian, kasih sayang, dan intensitas berlebihan di awal hubungan untuk menciptakan ketergantungan emosional.
Menurut penjelasan para terapis hubungan seperti Dr. Ramani Durvasula, love bombing sering dikaitkan dengan pola hubungan narsistik. Tujuannya bukan cinta tulus, tapi kontrol.
Lalu kalau kamu sadar sedang mengalaminya, apa yang harus dilakukan?
Pelaku love bombing jago banget merangkai kata. Mereka bisa terdengar sangat meyakinkan. Tapi yang perlu kamu lihat adalah konsistensi.
Apakah perhatian itu stabil atau tiba tiba hilang
Apakah dia menghargai batasanmu
Apakah dia marah ketika kamu tidak membalas sesuai ekspektasinya
Kalau perhatian berubah jadi tekanan, itu alarm merah.
Hubungan sehat tumbuh secara bertahap. Kalau semuanya terasa terlalu cepat, terlalu intens, terlalu dramatis, kamu berhak menekan tombol rem.
Katakan kamu ingin mengenal lebih dalam tanpa terburu-buru. Orang yang tulus akan menghargai tempo. Manipulator biasanya akan merasa kesal atau mencoba membuatmu merasa bersalah.
Jangan langsung menceritakan semua trauma, rahasia, dan ketakutan terdalam di fase awal. Love bomber sering menggunakan informasi pribadi untuk menciptakan kedekatan instan, lalu memanfaatkannya untuk mengikatmu secara emosional.
Hubungan sehat menghormati proses. Bukan memaksa kedekatan.
Salah satu strategi love bombing adalah membuatmu fokus hanya pada dia. Kamu jadi menjauh dari teman atau keluarga.
Padahal, support system itu penting banget. Penelitian dari American Psychological Association menunjukkan bahwa dukungan sosial berperan besar dalam menjaga kesehatan mental dan membantu individu keluar dari relasi tidak sehat.
Kalau kamu mulai merasa terisolasi, itu tanda bahaya.
Kalau di tengah semua perhatian itu kamu tetap merasa cemas, bingung, atau tidak nyaman, dengarkan perasaan itu.
Cinta sehat memberi rasa aman. Bukan euforia yang bikin deg-degan terus karena takut kehilangan.
Menjadi korban love bombing bukan berarti kamu lemah. Justru itu menunjukkan kamu punya hati yang terbuka.
Tapi hati yang terbuka tetap butuh batasan.
Karena cinta yang benar tidak perlu dibombardir. Ia tumbuh pelan, stabil, dan konsisten.
Kalau terasa seperti kembang api yang meledak besar lalu tiba-tiba padam, mungkin itu bukan cinta. Mungkin itu strategi.