Ambar Arum Putri Hapsari
mahasiswa Universitas STEKOM, BERITA CINTAMenulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
Child grooming adalah bentuk manipulasi emosional yang sering terlihat lembut di awal, tapi menyimpan niat gelap di balik perhatian palsu. Pelaku biasanya hadir sebagai sosok yang terlihat peduli, sabar, dan seolah menjadi tempat aman. Justru di situlah bahayanya. Proses ini berjalan pelan, nyaris tak terasa, hingga korban kehilangan batas dan rasa aman atas dirinya sendiri.
Di era digital, child grooming tidak hanya terjadi di dunia nyata, tapi juga lewat chat, media sosial, dan game online. Kata-kata manis, validasi berlebihan, dan janji perlindungan sering dijadikan senjata. Anak tidak diserang secara kasar, melainkan dirangkul hingga percaya. Dan saat kepercayaan itu tumbuh, kontrol mulai diambil.
Child grooming bukan sekadar tindakan satu kali, melainkan proses yang terencana. Pelaku membangun kedekatan emosional, menciptakan rasa spesial, lalu perlahan menurunkan kewaspadaan korban. Bahayanya terletak pada cara kerjanya yang halus. Banyak korban tidak sadar bahwa mereka sedang dimanipulasi.
Bahaya lain dari child grooming adalah sulitnya korban untuk bicara. Karena pelaku sering membuat korban merasa “dipilih”, “dimengerti”, atau “dibutuhkan”, anak bisa merasa bersalah jika menolak atau melapor. Pelaku juga kerap menanamkan rasa takut, ancaman, atau rasa hutang budi. Ini membuat korban terjebak dalam lingkaran yang melelahkan secara mental.
Lebih menyakitkan lagi, lingkungan sekitar sering terlambat menyadari. Grooming tidak selalu meninggalkan luka fisik, tapi meninggalkan jejak emosional yang dalam.
Dampak child grooming tidak berhenti saat kontak dengan pelaku berakhir. Banyak penyintas tumbuh dengan rasa bersalah, sulit percaya pada orang lain, kecemasan berlebih, hingga gangguan kesehatan mental. Ada yang merasa dirinya kotor, lemah, atau rusak, padahal yang salah sepenuhnya adalah pelaku.
Penting untuk ditegaskan, korban tidak pernah bersalah. Tidak peduli seberapa dekat, seberapa lama, atau seberapa “suka” yang pernah dirasakan, manipulasi tetaplah manipulasi. Anak tidak memiliki kapasitas untuk memberi persetujuan dalam situasi seperti ini.
Dukungan adalah kunci pemulihan. Mendengarkan tanpa menghakimi, mempercayai cerita korban, dan memberikan ruang aman adalah langkah awal yang sangat berarti. Bantuan profesional seperti konselor atau psikolog juga bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk keberanian untuk menyembuhkan diri.
Untuk kamu yang pernah mengalaminya, kamu tidak sendirian. Apa yang terjadi bukan salahmu. Luka itu valid, dan proses pulih tidak harus terburu-buru. Kamu berhak atas rasa aman, masa depan yang tenang, dan cinta yang tidak menyakiti.