Ambar Arum Putri Hapsari
mahasiswa Universitas STEKOM, BERITA CINTAMenulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
Banyak orang salah paham soal receiving gifts, love language.
Begitu dengar kata hadiah, langsung mikirnya
Matre.
Materialistis.
Suka barang mahal.
Padahal tidak sesederhana itu.
Receiving gifts bukan tentang harga. Tapi tentang makna.
Bagi seseorang dengan love language ini, hadiah adalah simbol perhatian.
Bukan soal tas branded.
Bukan soal barang mewah.
Bisa saja cuma cokelat kecil.
Atau buku yang kamu ingat dia suka.
Yang membuatnya spesial bukan nominalnya, tapi pesan di baliknya
“Aku memikirkan kamu.”
Karena bagi mereka, benda fisik menjadi representasi rasa.
Setiap melihat hadiah itu, mereka teringat momen, usaha, dan niat pasangan.
Hadiah jadi semacam pengingat konkret bahwa mereka dicintai.
Kalau love language orang lain mungkin lewat kata atau sentuhan, mereka merasakannya lewat simbol yang bisa dipegang.
Receiving gifts tidak berarti harus memberi setiap minggu.
Yang penting adalah ketulusan dan konsistensi kecil.
Misalnya
Membawakan makanan favorit tanpa diminta
Menyimpan oleh oleh kecil saat bepergian
Memberi kartu ucapan sederhana
Hal kecil seperti ini bisa terasa sangat besar bagi mereka.
Bukan begitu.
Tapi ketika jarang diberi tanda perhatian dalam bentuk benda, mereka bisa merasa kurang diperhatikan.
Bukan karena haus barang.
Tapi karena bahasa cintanya tidak tersampaikan.
Itulah pentingnya memahami love language pasangan.
Kalau pasanganmu punya receiving gifts sebagai love language, jangan langsung menilai negatif.
Coba pahami bahwa itu cara mereka merasakan cinta.
Dan kalau kamu tipe yang tidak terbiasa memberi hadiah, mulai dari hal sederhana.
Tidak perlu mahal.
Tidak perlu heboh.
Yang penting ada usaha dan niat.
Pada akhirnya, receiving gifts bukan tentang barangnya.
Tapi tentang rasa yang dibungkus dengan perhatian.