Ambar Arum Putri Hapsari
mahasiswa Universitas STEKOM, BERITA CINTAMenulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
Empat kali ketemu.
Tapi rasanya sudah seperti kenal bertahun-tahun.
Deg degan tiap notifikasi masuk. Senyum sendiri kalau ingat obrolannya. Bahkan mulai membayangkan masa depan yang sebenarnya belum tentu ada.
Pertanyaannya, itu cinta… atau cuma efek suasana?
Tenang. Kamu tidak aneh. Fenomena ini sangat manusiawi.
Dalam psikologi, ada istilah infatuation atau ketertarikan intens di tahap awal. Perasaan ini terasa sangat kuat, cepat, dan sering kali dipenuhi imajinasi.
Menurut American Psychological Association, fase awal ketertarikan romantis memang ditandai dengan peningkatan hormon dopamin dan adrenalin. Itu sebabnya kamu merasa euforia, semangat, bahkan sedikit obsesif.
Masalahnya, di tahap ini kamu belum benar-benar mengenal orangnya.
Yang kamu suka bisa jadi bukan dia sepenuhnya, tapi versi terbaik yang ia tampilkan. Atau lebih jujur lagi, versi yang kamu bayangkan tentang dirinya.
Empat kali pertemuan belum cukup untuk melihat bagaimana dia marah, bagaimana dia menghadapi tekanan, atau bagaimana dia memperlakukan orang lain saat tidak ada yang melihat.
Cinta biasanya tumbuh dari konsistensi dan kedekatan yang nyata. Bukan hanya rasa nyaman saat semuanya menyenangkan, tetapi juga saat ada perbedaan.
Cinta itu tenang.
Infatuation itu meledak ledak.
Cinta membuatmu merasa aman.
Infatuation membuatmu merasa ketagihan.
Kalau setelah empat kali bertemu kamu merasa bahagia, itu valid. Tapi jika perasaan itu diiringi kecemasan berlebihan, takut kehilangan padahal belum memiliki, atau terlalu cepat mengikat harapan, mungkin itu bukan cinta. Itu euforia.
Kita hidup di era intens. Chat bisa setiap hari. Cerita bisa dalam. Kedekatan emosional bisa terbentuk cepat meski waktu pertemuan sedikit.
Otak tidak menghitung berapa kali kamu bertemu. Otak merespons koneksi emosional.
Yang perlu dijaga adalah kesadaran.
Nikmati rasanya, tapi jangan langsung mengunci ekspektasi. Biarkan waktu menguji apakah perasaan itu stabil atau hanya sesaat.
Karena cinta sejati tidak keberatan berjalan pelan. Ia tidak panik jika tidak segera diberi label.
Jadi kalau kamu baru ketemu empat kali dan sudah merasa jatuh cinta, mungkin itu bukan salah. Tapi sebelum menyebutnya cinta, beri ruang untuk mengenalnya lebih dalam.
Kalau setelah waktu berjalan perasaan itu tetap ada, tetap stabil, dan tetap sehat, barulah kamu bisa bilang
Ini bukan cuma rasa. Ini memang cinta.