Ambar Arum Putri Hapsari
mahasiswa Universitas STEKOM, BERITA CINTAMenulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
Awalnya kamu merasa spesial.
Dia cerita tentang masa kecilnya. Tentang trauma mantan. Tentang hari-harinya yang berat. Kamu selalu ada. Mendengarkan. Menenangkan. Memberi saran.
Tapi ketika kamu berharap lebih, jawabannya selalu sama
Kamu tuh enak diajak cerita.
Dan kamu sadar satu hal yang agak menyakitkan. Kamu bukan calon pasangan. Kamu cuma tempat curhat.
Pertanyaannya, gimana cara keluar dari posisi itu tanpa terlihat pahit?
Kalau setiap obrolan selalu tentang dia dan masalahnya, kalau dia datang hanya saat butuh didengar, dan menghilang saat kamu butuh perhatian, itu tanda jelas.
Kamu sedang jadi emotional support tanpa komitmen.
Menurut banyak psikolog relasi, pola ini sering membuat satu pihak merasa terkuras. Bahkan American Psychological Association menjelaskan bahwa hubungan yang tidak seimbang secara emosional dapat memicu stres dan rasa tidak dihargai.
Kalau kamu mulai merasa lelah, itu bukan lebay. Itu sinyal.
Cara lepas bukan dengan marah atau sindiran tajam. Tapi dengan perlahan mengurangi akses.
Balas pesan seperlunya.
Jangan selalu jadi orang pertama yang menanggapi.
Berhenti memberi solusi panjang lebar setiap kali dia curhat.
Biarkan dia belajar bahwa kamu bukan hotline 24 jam.
Kalau dia benar-benar peduli, dia akan sadar ada perubahan dan bertanya. Kalau tidak, berarti memang dari awal kamu hanya tempat persinggahan.
Kalau kamu memang punya rasa, jujur itu penting.
Katakan dengan dewasa bahwa kamu ingin hubungan yang lebih dari sekadar tempat curhat. Tidak perlu memaksa. Tidak perlu memohon.
Kalau dia bilang tidak bisa memberi lebih, itu jawaban yang jelas. Sakit mungkin. Tapi lebih baik daripada berharap tanpa arah.
Karena yang paling melelahkan bukan penolakan. Tapi ketidakpastian.
Sering kali kita terjebak karena merasa dibutuhkan itu menyenangkan. Padahal dibutuhkan bukan berarti dicintai.
Mulailah fokus pada aktivitas, pertemanan, atau orang lain yang memberi energi balik. Jangan biarkan satu orang menghabiskan kapasitas emosionalmu.
Kamu layak jadi prioritas, bukan sekadar tempat parkir perasaan.
Keluar dari posisi temen curhat memang tidak mudah. Apalagi kalau kamu sudah terlanjur nyaman.
Tapi hubungan sehat itu dua arah. Bukan satu orang bercerita, satu orang menampung.
Kalau kamu terus bertahan di zona itu, kamu bukan sedang sabar. Kamu sedang mengorbankan diri pelan-pelan.
Dan percaya deh, orang yang tepat tidak akan menjadikanmu hanya sebagai tempat cerita. Dia akan menjadikanmu bagian dari cerita itu sendiri.