Ambar Arum Putri Hapsari
mahasiswa Universitas STEKOM, BERITA CINTAMenulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
Ada fenomena menarik, sekaligus ironis, di tengah budaya pacaran dan relasi hari ini. Banyak orang mengaku lebih takut memiliki pasangan yang matre atau mokondo dibandingkan pasangan dengan riwayat HIV. Kalimat seperti “yang penting bukan matre” atau “jangan sampai dapet yang cuma numpang hidup” sering terdengar lebih nyaring daripada pertanyaan sederhana soal kesehatan seksual.
Padahal, satu hal menyangkut gaya hidup dan nilai. Yang satu lagi menyangkut nyawa, masa depan, dan kesehatan jangka panjang.
Lebih ironis lagi, ada realita yang jarang dibicarakan secara jujur. Ada orang yang sudah terinfeksi HIV, namun tetap menjalani pola relasi yang tidak sehat, manipulatif secara finansial, bahkan masih menjalani seks bebas tanpa keterbukaan dan tanggung jawab. Bukan karena status kesehatannya, tapi karena pilihan sikapnya.
Seks bebas sering dibungkus dengan narasi kebebasan, kedewasaan, atau sekadar “urusan pribadi”. Yang jarang disampaikan adalah konsekuensinya. Penyakit menular seksual tidak selalu datang dengan gejala instan. Banyak yang merasa baik-baik saja, hingga bertahun-tahun kemudian baru menyadari tubuhnya menyimpan bom waktu.
HIV bukan kutukan, bukan aib, dan bukan hukuman moral. Namun menutup mata terhadap cara penularannya adalah kelalaian kolektif. Ketika hubungan dijalani tanpa komitmen, tanpa tes kesehatan, tanpa komunikasi jujur, yang dipertaruhkan bukan cuma perasaan, tapi kehidupan.
Ironisnya, sebagian orang begitu selektif soal gaya hidup pasangan, tapi longgar soal riwayat seksual. Takut dimanfaatkan secara materi, tapi abai pada risiko biologis yang nyata.
Artikel ini bukan untuk menghakimi ODHA. Banyak dari mereka justru hidup dengan sangat bertanggung jawab, rutin pengobatan, dan menjaga pasangannya dengan keterbukaan. Yang patut dikritik adalah budaya permisif yang menganggap seks bebas sebagai hal biasa, tanpa literasi, tanpa proteksi, tanpa kesadaran.
Masalahnya bukan HIV. Masalahnya adalah ketidaksiapan mental, minimnya edukasi seksual, dan kebiasaan menyepelekan risiko.
Jika kita bisa menolak pasangan karena dianggap matre atau mokondo, seharusnya kita juga berani menuntut keterbukaan, tes kesehatan, dan komitmen yang sehat. Bukan karena takut, tapi karena peduli.
Pada akhirnya, mencintai diri sendiri bukan cuma soal menjaga hati, tapi juga menjaga tubuh dan masa depan. Dan kadang, bahaya terbesar bukan datang dari orang yang minta uang, tapi dari kebiasaan yang kita anggap sepele.