Ambar Arum Putri Hapsari
mahasiswa Universitas STEKOM, BERITA CINTAMenulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
Jujur saja.
Kadang yang bikin deg degan dalam hubungan bukan cuma pasangan… tapi ibunya.
Kalau kamu mulai merasa ada jarak, tatapan dingin, atau suasana yang kurang hangat, mungkin kamu sedang menangkap tanda ibu pasangan tidak suka.
Tenang. Kita bahas dengan realistis, bukan parno.
Bukan berarti beliau harus langsung memeluk kamu.
Tapi kalau setiap interaksi terasa kaku, datar, dan minim senyum, itu bisa jadi sinyal.
Jawaban singkat.
Ekspresi datar.
Tidak ada usaha membangun obrolan.
Memang bisa saja beliau tipe yang pendiam. Tapi kalau ke orang lain terlihat hangat, sementara ke kamu tidak, mungkin ada sesuatu.
Ini yang paling halus tapi terasa.
“Kemarin temannya anak saya ada yang bekerja di luar negeri.”
“Dulu mantannya juga pintar masak.”
Kalimatnya tidak menyerang langsung.
Tapi cukup untuk bikin kamu merasa tidak cukup.
Kalau perbandingan ini sering muncul, bisa jadi itu bentuk ketidaksukaan yang tidak disampaikan secara frontal.
Kalau ada acara keluarga, kamu jarang dilibatkan.
Atau sekadar membantu di dapur pun tidak diberi ruang.
Padahal biasanya orang tua akan mencoba mengenal dan melibatkan calon pasangan anaknya.
Kalau kamu seperti “ada tapi tidak dianggap ada”, itu perlu diperhatikan.
Setiap keputusan pasangan selalu diintervensi.
Seolah kamu dianggap membawa pengaruh negatif.
Misalnya sering bertanya
“Kamu serius sama dia?”
“Jangan sampai kamu berubah ya.”
Protektif itu wajar. Tapi kalau terasa seperti tidak percaya, itu bisa jadi tanda ketidaksukaan.
Kadang bukan dari kata-kata, tapi dari gestur.
Jarang menatap mata.
Tidak pernah tersenyum ketika kamu datang.
Atau terlihat kurang nyaman saat kamu berbicara.
Bahasa tubuh sering lebih jujur daripada ucapan.
Pertama, jangan langsung defensif.
Coba evaluasi dengan tenang. Apakah ada sikapmu yang mungkin belum sesuai ekspektasi beliau?
Kedua, tetap sopan dan konsisten menunjukkan sikap baik.
Kadang ketidaksukaan muncul dari kekhawatiran, bukan kebencian.
Dan yang paling penting, komunikasi dengan pasangan.
Karena hubungan bukan hanya soal kamu dan dia. Tapi juga tentang bagaimana kamu masuk ke lingkaran keluarganya.
Kalau memang ada ketidaksukaan, waktu dan sikap biasanya bisa melunakkannya.
Tapi kalau ternyata hanya overthinking, jangan sampai kamu merusak hubungan karena asumsi sendiri.
Tenang.
Kesan pertama bisa berubah.
Yang penting, kamu tetap jadi versi terbaik dirimu.