Ambar Arum Putri Hapsari
mahasiswa Universitas STEKOM, BERITA CINTAMenulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
Ada fenomena tahunan yang entah kenapa selalu muncul menjelang bulan suci.
Namanya sederhana tapi dramatis, putus di bulan Ramadhan.
Masuk Ramadhan, tiba tiba semua jadi reflektif. Story penuh ayat. Caption berubah jadi kalimat hijrah. Yang tadinya tiap malam video call, mendadak bilang mau fokus ibadah.
Lalu muncullah kalimat sakral itu, “Aku mau memperbaiki diri dulu.”
Terdengar dewasa. Terdengar religius. Terdengar… musiman.
Biasanya prosesnya rapi dan penuh adab. Tidak ada teriak. Tidak ada drama berlebihan.
Justru bahasanya lembut sekali.
“Kita sama sama introspeksi ya.”
“Aku takut hubungan ini bikin dosa.”
“Aku gak mau jadi penghalang surgamu.”
Indah sekali.
Selama sebulan penuh, masing-masing fokus pada ibadah. Tidak ada chat manja. Tidak ada panggilan, sayang. Semua terlihat konsisten.
Sampai akhirnya…
H plus tujuh Lebaran.
Setelah silaturahmi selesai.
Setelah opor habis.
Setelah foto keluarga diunggah.
Chat masuk.
“Halo… gimana lebarannya?”
Lho?
Bukannya kemarin mau fokus akhirat?
Tiba-tiba rindu muncul lagi.
Tiba-tiba hubungan yang katanya mengganggu ibadah jadi terasa layak diperjuangkan.
Jujur saja.
Ramadhan memang bikin orang lebih reflektif. Itu hal baik. Banyak yang sadar perlu memperbaiki diri, termasuk dalam hubungan.
Tapi kalau polanya selalu sama setiap tahun
Putus saat Ramadhan.
Balikan setelah Lebaran.
Mungkin yang perlu dievaluasi bukan hubungannya. Tapi konsistensinya.
Kalau memang hubungan itu tidak sehat, seharusnya selesai, bukan hanya sebulan.
Kalau memang ingin berubah, seharusnya perubahan tidak berhenti setelah Syawal.
Cinta yang matang tidak bergantung pada kalender.
Dan komitmen tidak boleh bersifat musiman.
Kalau kamu pernah mengalami skenario ini, coba tanyakan satu hal sederhana.
Putus kemarin karena prinsip… atau karena suasana?
Kalau balikan nanti, pastikan alasannya bukan sekadar rindu sesaat atau tekanan momen religius.
Memperbaiki hubungan bisa dilakukan tanpa harus drama musiman.
Dan kalau memang serius, perubahan itu seharusnya berlanjut bahkan setelah bulan suci berlalu.
Cinta boleh diuji.
Tapi jangan jadikan Ramadhan sebagai tombol pause dan Lebaran sebagai tombol resume.