Ambar Arum Putri Hapsari
mahasiswa Universitas STEKOM, BERITA CINTAMenulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
Tidak semua hubungan dimulai dari rasa yang sama besar. Ada yang tumbuh perlahan. Ada juga yang dipaksakan sejak awal.
Atau lebih menyakitkan lagi, dipaksakan karena satu pihak mencintai lebih dalam sementara yang lain hanya merasa kasihan.
Pertanyaannya, apakah hubungan seperti ini selalu berakhir buruk?
Jawabannya tidak sesederhana iya atau tidak. Tapi ada pola yang bisa kita pahami.
Cinta bukan sekadar komitmen. Ia melibatkan koneksi emosional, ketertarikan, dan rasa nyaman yang alami. Saat hubungan dipaksakan, biasanya ada satu hal yang terasa berat. Obrolan terasa hambar. Pertemuan terasa kewajiban. Kebersamaan terasa seperti tugas.
Menurut American Psychological Association, hubungan yang sehat ditandai dengan keterikatan emosional yang autentik dan saling mendukung. Jika salah satu pihak terus-menerus merasa tertekan atau tidak menjadi diri sendiri, dampaknya bisa muncul dalam bentuk stres dan kelelahan emosional.
Hubungan mungkin bertahan. Tapi hati belum tentu bahagia.
Ada juga cerita di mana cinta yang awalnya biasa saja, perlahan berubah menjadi rasa yang dalam. Namun, perbedaannya jelas. Itu bukan paksaan. Itu proses.
Cinta yang tumbuh memberi ruang.
Cinta yang dipaksakan memberi tekanan.
Tekanan membuat seseorang berpura-pura. Berpura-pura sayang. Berpura-pura nyaman. Berpura pura baik baik saja.
Dan semakin lama berpura-pura, semakin besar kemungkinan meledak di tengah jalan.
Dampak Psikologis yang Sering Diabaikan
Bertahan dalam hubungan tanpa rasa tulus bisa memunculkan rasa bersalah, frustrasi, bahkan kehilangan identitas. Kamu mungkin mulai bertanya pada diri sendiri
Kenapa aku tidak bisa mencintainya
Kenapa aku merasa kosong
Kenapa aku tetap bertahan
Pertanyaan itu pelan-pelan menggerus kesehatan mental.
Bukan berarti setiap hubungan yang awalnya ragu pasti gagal. Tapi jika bertahan hanya karena takut penilaian orang atau takut sendirian, itu bukan fondasi yang kuat.
Tidak selalu. Tapi hubungan yang dipaksakan jarang berakhir indah tanpa perubahan besar. Entah perasaan benar-benar tumbuh secara alami, atau salah satu akhirnya memilih pergi.
Karena cinta yang sehat seharusnya membuatmu merasa dipilih dengan sadar. Bukan terjebak oleh keadaan.
Jika kamu sedang berada di hubungan seperti ini, tanyakan dengan jujur
Apakah aku bertahan karena cinta
Atau karena takut kehilangan sesuatu yang bahkan tidak pernah benar benar aku miliki
Kadang yang perlu dilepaskan bukan orangnya, tapi alasan kita memaksakan diri untuk tetap tinggal.