Ambar Arum Putri Hapsari
mahasiswa Universitas STEKOM, BERITA CINTAMenulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
Kalimat itu sering kita dengar dari seantero timeline, grup chat, bahkan dari teman sendiri. “Cowok itu suka cewek yang penurut.” Sederhana, singkat, dan entah kenapa sering dipercaya. Tapi apakah itu benar-benar fakta, atau cuma stereotip yang diputar-mutar turun-temurun?
Melihat realita di lapangan — baik dari pengalaman pribadi banyak orang maupun hasil-hasil pengamatan psikologi hubungan — jawabannya lebih kompleks daripada sekadar ya atau tidak.
Kebutuhan utama banyak pria dalam hubungan bukan mencari wanita penurut, melainkan mencari pasangan yang membuat mereka merasa aman secara emosional dan nyaman secara komunikasi. Dalam hubungan yang sehat, penurutan tanpa batas justru sering jadi red flag.
Kalau seseorang terlalu penurut sampai mengorbankan dirinya sendiri, apa yang tampak seperti “penurut” itu bisa berarti:
Dalam jangka panjang, hal itu bukan bikin hubungan kuat, tapi bikin pasangan yang terlalu dominan jadi terlalu berkuasa.
Fakta di lapangan sering menunjukkan justru orang yang punya pendirian, batasan sehat, dan kemampuan berkomunikasi yang jelas — bukan yang selalu menurut — lebih dihargai dan direspek.
Ada beberapa alasan kenapa anggapan ini terus muncul:
…bisa berbicara jujur tanpa drama.
…memiliki batasan sendiri.
…tidak berpura-pura menyukai segalanya demi menyenangkanmu.
…bisa diajak berdebat sehat tanpa jadi cemberut semua.
Faktanya, pria yang dewasa secara emosional justru tertarik pada wanita yang independen, percaya diri, dan punya kehidupan di luar hubungan.
Sikap seperti ini menunjukkan:
Dan itu jauh lebih menarik daripada hanya sekadar “penurut”.
Kamu tidak perlu menjadi penurut agar dicintai.
Yang pria cari bukan patuh tanpa syarat, tapi hubungan yang sehat, kompromi yang adil, dan rasa saling menghargai.
Menjadi kamu sendiri — tegas, jujur, dan tetap penuh kasih — lebih menimbulkan rasa hormat daripada sekadar menuruti segalanya.
Karena hubungan yang kuat tidak dibangun karena salah satu selalu menurut.
Tapi karena dua orang mau tumbuh bersama tanpa melukai batas masing-masing.