Ambar Arum Putri Hapsari
mahasiswa Universitas STEKOM, BERITA CINTAMenulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
Ada satu fenomena klasik dalam dunia percintaan yang rasanya tidak akan pernah punah. Ketika seseorang ketahuan selingkuh, alih alih menunduk malu atau minimal minta maaf dengan tulus, yang terjadi justru sebaliknya. Dia marah. Dia merasa diserang. Dia merasa dizalimi. Dan tentu saja, kamu yang diselingkuhi malah dituduh berlebihan.
Lucu ya. Yang ketahuan salah malah punya energi paling besar buat membela diri.
Seolah olah selingkuh itu cuma salah paham. Cuma chat doang. Cuma temenan. Cuma bercanda. Cuma khilaf. Semua cuma. Kecuali rasa sakit kamu. Itu tidak pernah dianggap apa apa.
Biasanya pola ini dimulai dengan kalimat sakti
“Kamu tuh terlalu overthinking", “Aku ga ada niat apa apa”, "Kamu kok ga percaya sama aku”
Padahal bukti sudah di depan mata. Chat ada. Foto ada. Kedekatan jelas. Tapi tetap saja, kamu yang dibuat merasa bersalah karena berani mempertanyakan. Di titik ini, selingkuh bukan lagi soal pengkhianatan, tapi soal adu akting.
Yang satu berakting sebagai korban. Yang satu lagi dipaksa jadi antagonis.
Lebih parahnya lagi, setelah ketahuan, bukannya introspeksi, dia malah sibuk mencari pembenaran. Mengungkit kesalahan kamu di masa lalu. Membandingkan kamu dengan orang lain. Atau yang paling klasik, membawa bawa luka pribadi sebagai tameng.
“Aku begini karena aku capek”, “Aku selingkuh karena kamu kurang perhatian”
Seolah olah pengkhianatan adalah reaksi yang wajar. Seolah olah melukai orang lain adalah solusi dari masalah diri sendiri.
Yang lebih melelahkan dari diselingkuhi adalah menghadapi orang yang tidak mau mengakui kesalahannya. Bukan cuma tidak minta maaf, tapi juga merasa pantas dimaklumi. Bahkan kadang, merasa lebih suci karena sudah jujur setelah ketahuan.
Ironisnya, di fase ini, kamu bisa dibuat ragu pada perasaan sendiri. Kok aku yang jadi merasa jahat ya
Apa aku lebay?, Apa aku kurang baik?
Padahal jelas jelas kamu hanya meminta satu hal yang wajar dalam hubungan. Kesetiaan.
Sarkasnya di sini adalah, orang yang salah sering kali paling berisik bicara soal moral. Paling keras bicara soal logika. Paling pintar memelintir fakta. Sampai akhirnya kamu lelah sendiri dan memilih diam.
Bukan karena memaafkan. Tapi karena sadar, berdebat dengan orang yang tidak mau bertanggung jawab hanya akan menguras tenaga.
Jadi kalau suatu hari kamu ketahuan diselingkuhi, dan reaksinya bukan penyesalan tapi pembelaan diri yang panjang, ingat satu hal. Itu bukan cinta yang salah langkah. Itu karakter yang memang bermasalah.
Dan kamu tidak harus bertahan di situ.
Karena cinta seharusnya menenangkan. Bukan membuatmu mempertanyakan kewarasanmu sendiri.