Ambar Arum Putri Hapsari
mahasiswa Universitas STEKOM, BERITA CINTAMenulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
Setiap orang pasti punya masa lalu. Ada yang indah, ada yang menyakitkan, ada yang gelap hingga membekas jadi trauma. Begitu juga aku. Dari luar mungkin aku terlihat cerewet, ceria, dan normal seperti orang-orang pada umumnya, bahkan sering dibilang bawel. Tapi di balik itu semua, ada sisi diriku yang nggak banyak orang tahu.
Jujur, aku pernah dua kali mencoba mengakh*ri hidupku.
Kedengarannya lebay? Aku pun pernah mikir begitu. Aku menasehati diriku sendiri, “Itu dosa. Itu cuma masalah sepele. Jangan gelap mata.”
Tapi kenyataannya, rasanya nggak sesederhana itu.
Aku sering banget kehilangan kendali atas emosiku sendiri.
Tangisku bisa sampai sesakit itu, sampai aku memukuli diriku sendiri. Sampai aku sadar, tapi tetap melakukannya. Bahkan aku pernah menyentuh obat-obatan terlarang karena rasanya buntu, seperti nggak ada jalan keluar.
Lalu hidupku perlahan membaik. Setidaknya, itu yang kupikir. Aku sudah jarang menangis. Sudah nggak lagi menyakiti diri sendiri. Aku mulai merasa “oh, mungkin aku sudah stabil.”
Tapi ternyata tidak.
Dalam satu tahun terakhir, aku baru sadar kalau aku sering nggak bisa membedakan mana realita dan mana imajinasi di kepalaku. Rasanya aneh, menakutkan, dan membingungkan. Aku sempat kepikiran ke psikolog atau psikiater, tapi… ya, biaya jadi halangan.
Yang bikin tambah kacau, imajinasiku bukan sekadar pikiran lewat. Kadang aku bereaksi beneran, seolah-olah kejadian itu nyata. Badanku ikut merespons, emosiku ikut terseret, sampai aku malu sendiri, di tempat umum, saat ibadah, saat kerja, bahkan dalam kegiatan sehari-hari.
Capek banget.
Capek karena nggak ada yang benar-benar tahu apa yang terjadi dalam kepalaku.
Capek karena kadang aku takut sama diriku sendiri.
Dan yang paling sakit: aku bingung… sebenarnya aku ini kenapa?
Aku cuma ingin tahu, apakah ada orang lain yang ngalamin hal kayak gini juga?
Apakah aku normal? Apakah aku rusak? Atau ini cuma fase yang harus dilewati?
Aku hanya ingin dimengerti.
Karena rasanya… aku sudah terlalu lama berjuang sendirian.