Ambar Arum Putri Hapsari
mahasiswa Universitas STEKOM, BERITA CINTAMenulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
Awalnya kamu jadi pendengar yang baik. Dengerin, nenangin, kasih saran. Tapi lama-lama capek juga. Topiknya itu lagi itu lagi. Cowo, masalahnya, dramanya, dan loop yang gak ada habisnya.
Kamu mulai ngerasa jenuh. Bahkan mungkin kesel. Tapi di sisi lain, kamu juga ngerasa bersalah. Takut dibilang gak peduli, takut dianggap berubah.
Padahal, rasa muak itu bukan berarti kamu jahat. Itu tanda kamu juga punya batas.
Dengerin curhatan orang itu butuh energi. Apalagi kalau ceritanya berulang, tanpa ada perubahan. Temenmu curhat, kamu kasih saran, dia iya-iya, tapi besok ngulang lagi hal yang sama.
Di sinilah kelelahan emosional mulai muncul. Kamu jadi seperti tempat sampah perasaan, tapi tanpa jeda untuk napas. Ini bukan cuma capek fisik, tapi juga mental.
Lebih parahnya lagi, kamu bisa merasa tidak dihargai. Seolah saranmu tidak pernah benar-benar didengar. Kamu ada, tapi hanya sebagai tempat buang cerita, bukan sebagai teman yang diperhatikan juga.
Ini adalah kondisi yang sering tidak disadari, tapi dampaknya nyata.
Kamu tidak harus terus menahan semuanya demi terlihat baik. Menjaga diri sendiri juga penting.
Mulai dari jujur, tapi tetap dengan cara yang baik. Kamu bisa bilang kalau kamu lagi capek atau butuh jeda dari topik itu. Ini bukan menolak dia, tapi menjaga keseimbangan.
Kamu juga bisa mengarahkan pembicaraan ke hal lain. Tidak semua waktu harus diisi dengan drama percintaan. Teman yang sehat adalah yang bisa ngobrol banyak hal, bukan satu topik saja.
Kalau dia tetap terus mengulang pola yang sama tanpa mau berubah, kamu perlu mulai membuat batas yang lebih tegas. Kamu bukan konselor pribadi yang harus selalu siap 24 jam.
Dan satu hal penting, perhatikan dirimu juga. Jangan sampai kamu terlalu sibuk mendengarkan orang lain sampai lupa kondisi sendiri.
Untuk kamu yang lagi ada di posisi ini, wajar kok kalau kamu muak. Itu bukan berarti kamu teman yang buruk. Itu berarti kamu manusia yang juga punya kapasitas.
Teman yang baik bukan yang selalu ada tanpa batas. Tapi yang tahu kapan harus memberi, dan kapan harus menjaga diri.
Jadi kalau kamu mulai capek dengerin curhatan yang itu-itu saja, mungkin itu bukan tanda kamu berubah. Tapi tanda kamu mulai sadar, bahwa hubungan juga butuh keseimbangan.