Ambar Arum Putri Hapsari
mahasiswa Universitas STEKOM, BERITA CINTAMenulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
Tidak semua luka datang dari pria. Faktanya, perempuan juga bisa menjadi pihak yang menyakiti dalam hubungan. Tapi seringnya, ini tidak disadari. Karena bentuknya halus, dibungkus emosi, atau bahkan terlihat seperti “cuma lagi sensitif”.
Padahal, perilaku abusif adalah pola yang berulang. Ia bukan sekadar marah sesaat. Ia adalah cara memperlakukan pasangan yang perlahan merusak mental dan harga diri.
Kalau kamu sering merasa tertekan, bingung, atau kehilangan diri sendiri dalam hubungan, mungkin ini saatnya kamu mulai melihat lebih jujur.
Pertama, sering memanipulasi perasaan. Dia membuat kamu merasa bersalah atas hal yang sebenarnya bukan kesalahanmu. Kamu jadi terus minta maaf, bahkan saat kamu tidak melakukan apa-apa.
Kedua, mengontrol berlebihan. Mulai dari siapa yang boleh kamu temui, bagaimana kamu bersikap, sampai hal kecil seperti cara berpakaian. Semua harus sesuai dengan keinginannya.
Ketiga, sering merendahkan. Entah lewat candaan atau ucapan langsung, dia membuat kamu merasa tidak cukup. Lama-lama, kamu mulai percaya bahwa kamu memang kurang.
Keempat, memainkan ancaman. Mau putus, menjauh, atau berubah sikap drastis hanya untuk membuat kamu takut kehilangan. Ini adalah bentuk tekanan emosional yang tidak sehat.
Kelima, tidak mau disalahkan. Setiap konflik selalu berakhir dengan kamu yang dianggap salah. Dia sulit mengakui kesalahan dan cenderung membalikkan keadaan.
Semua ini mungkin terlihat kecil kalau terjadi sekali. Tapi kalau berulang, ini adalah tanda jelas hubungan yang tidak sehat.
Berada dalam hubungan seperti ini bisa menguras mental. Kamu jadi ragu pada diri sendiri, kehilangan kepercayaan diri, dan merasa tidak punya kendali atas hidupmu.
Yang lebih parah, kamu bisa terbiasa. Kamu menganggap ini normal, bahkan merasa tidak pantas mendapatkan yang lebih baik. Ini adalah efek jangka panjang yang sering tidak disadari.
Hubungan seharusnya menjadi tempat aman, bukan tempat kamu harus terus bertahan dari tekanan.
Kalau kamu mengenali tanda-tanda ini, jangan diabaikan. Komunikasikan kalau masih memungkinkan. Tapi kalau tidak ada perubahan, kamu juga harus berani mengambil jarak.
Untuk kamu yang pernah atau sedang ada di posisi ini, perasaan lelahmu itu nyata. Kamu tidak berlebihan. Kamu hanya berada dalam situasi yang memang tidak sehat.
Cinta yang benar tidak membuat kamu takut, tidak membuat kamu kecil, dan tidak membuat kamu kehilangan diri sendiri.
Jadi kalau kamu mulai merasa tidak jadi diri sendiri dalam hubungan, mungkin masalahnya bukan di kamu. Tapi di cara dia memperlakukmu.