Ambar Arum Putri Hapsari
mahasiswa Universitas STEKOM, BERITA CINTAMenulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
Putus sudah. Chat sudah selesai. Tapi satu hal yang sering bikin mikir adalah tombol follow. Masih saling mengikuti di sosmed, lihat story, kadang kepo diam diam. Kelihatannya sepele, tapi efeknya bisa panjang.
Pertanyaannya bukan cuma perlu atau tidak. Tapi lebih ke, itu bikin kamu baik-baik saja atau justru menahan kamu untuk move on.
Karena jujur saja, tidak semua yang “masih baik-baik aja” itu benar-benar sehat.
Follow mantan itu kelihatannya dewasa. Tidak musuhan, tetap santai. Tapi di balik itu, ada kemungkinan kamu belum benar-benar lepas.
Setiap story yang muncul bisa memicu perasaan lama. Kamu jadi membandingkan hidupmu dengan dia, bertanya-tanya dia sudah sama siapa, atau bahkan berharap dia melihat unggahanmu.
Ini bukan sekadar scroll biasa. Ini adalah pintu kecil yang membuat kamu tetap terhubung secara emosional.
Lebih tricky lagi, kamu bisa merasa “aku sudah move on kok”, padahal masih diam-diam peduli. Ini yang bikin proses healing jadi setengah jalan.
Bukan berarti semua orang harus unfollow. Tapi kalau kehadirannya di layar membuat kamu tidak tenang, itu tanda yang tidak boleh diabaikan.
Tidak ada aturan baku. Follow atau tidak, itu pilihan. Tapi ukurannya sederhana. Apakah itu membantu kamu sembuh, atau justru menahan kamu di tempat yang sama?
Kalau kamu masih sering kepikiran, masih cek profilnya, atau merasa terganggu tiap lihat update dia, mungkin sudah saatnya kamu jaga jarak. Unfollow bukan berarti benci. Itu adalah bentuk menjaga diri.
Sebaliknya, kalau kamu benar-benar sudah netral, tidak ada rasa, tidak ada harapan, dan kehadirannya tidak mengganggu, follow mungkin bukan masalah.
Tapi hati-hati dengan kata “tidak masalah”. Kadang kita bilang begitu hanya untuk terlihat kuat, padahal dalam diam masih berharap.
Untuk kamu yang sedang galau soal ini, tidak apa-apa memilih yang membuatmu lebih tenang. Kamu tidak harus terlihat dewasa di mata orang lain kalau itu mengorbankan prosesmu sendiri.
Move on bukan soal cepat atau lambat. Tapi soal seberapa jujur kamu sama perasaanmu.
Jadi, masih perlu follow mantan? Jawabannya bukan di orang lain. Tapi di efek yang kamu rasakan setiap kali namanya muncul di layar.
Kalau itu bikin kamu mundur, mungkin sudah waktunya kamu melangkah maju.