Ambar Arum Putri Hapsari
mahasiswa Universitas STEKOM, BERITA CINTAMenulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
Kamu tahu itu salah. Teman-temanmu sudah bilang. Tanda-tandanya jelas. Tapi entah kenapa, kamu tetap bertahan. Tetap membela, tetap memaklumi, bahkan tetap berharap. Seolah logika dimatikan dan perasaan jadi satu-satunya kompas.
Ini bukan karena kamu lemah. Ini karena cinta memang punya cara unik untuk mengaburkan penilaian. Dan yang lebih menarik, sering kali kamu tidak sadar sedang dibutakan sampai semuanya terlambat.
Jadi, kenapa hal ini bisa terjadi
Saat kamu jatuh cinta, otakmu bekerja berbeda. Dopamin adalah hormon yang membuat rasa senang dan ketagihan meningkat. Ini membuat kehadiran seseorang terasa sangat penting, bahkan seperti kebutuhan.
Lalu ada oksitosin yang merupakan hormon kedekatan. Ini membuat kamu merasa nyaman dan percaya, bahkan ketika belum sepenuhnya mengenal dia. Di titik ini, rasa aman bisa terasa palsu, tapi tetap terasa nyata.
Selain itu, ada bias emosional. Kamu cenderung fokus pada hal baik dan mengabaikan yang buruk. Red flag yang seharusnya jadi peringatan, malah dianggap hal kecil. Kamu membenarkan perilaku yang sebenarnya tidak sehat.
Dan jangan lupa, harapan. Kamu jatuh bukan hanya pada siapa dia sekarang, tapi pada siapa yang kamu harapkan dia bisa jadi. Ini yang membuat kamu bertahan lebih lama dari yang seharusnya.
Ketika cinta membutakan, kamu bisa kehilangan batas. Kamu mulai mengorbankan prinsip, menoleransi hal yang dulu tidak bisa diterima, bahkan mengabaikan kebutuhan diri sendiri.
Dampaknya tidak main-main. Kamu bisa terjebak dalam hubungan yang tidak sehat, kehilangan rasa percaya diri, dan merasa sulit keluar meski sudah lelah.
Tapi kamu tidak harus terus berada di situ.
Mulai dengan sadar bahwa perasaan tidak selalu benar. Apa yang kamu rasakan itu valid, tapi bukan berarti harus selalu diikuti. Belajar memberi jeda sebelum mengambil keputusan bisa membantu kamu melihat lebih jernih.
Dengarkan juga sudut pandang orang lain yang kamu percaya. Kadang, orang luar bisa melihat lebih jelas karena mereka tidak terikat secara emosional.
Dan yang paling penting, pegang nilai dirimu. Kalau sesuatu jelas menyakitkan, itu bukan cinta yang harus dipertahankan.
Untuk kamu yang pernah atau sedang mengalami ini, kamu tidak sendirian. Banyak orang pernah ada di titik di mana cinta terasa lebih penting daripada diri sendiri.
Tapi ingat, cinta yang sehat tidak membuatmu kehilangan arah. Ia membuatmu tetap jadi dirimu, bukan versi yang terus mengalah tanpa batas.
Jadi kalau kamu mulai merasa “kok aku berubah demi dia”, mungkin itu tanda untuk membuka mata, bukan menutupnya lebih rapat.