Ambar Arum Putri Hapsari
mahasiswa Universitas STEKOM, BERITA CINTAMenulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
Hubunganku adalah hubungan yang dari awal sebenarnya nggak benar-benar sehat. Bukan karena kami saling nggak sayang, tapi karena terlalu banyak suara orang lain yang ikut masuk ke dalam hubungan kami.
Kalau dipikir-pikir sekarang, kami bahkan jarang mengambil keputusan sendiri.
Sedikit-sedikit nanya teman.
Sedikit-sedikit kirim screenshot chat ke sahabat.
Sedikit-sedikit buka TikTok buat cari jawaban.
Dan bodohnya, aku merasa semua itu adalah cara supaya hubunganku jadi lebih baik.
Ternyata aku salah.
Aku punya sahabat yang selalu ada buatku.
Setiap habis berantem sama pacarku, orang pertama yang aku chat pasti dia.
Aku kirim semua isi percakapan.
Aku ceritain semua kesalahan pacarku.
Tapi aku sadar sekarang...
Aku hampir nggak pernah bercerita tentang kesalahanku sendiri.
Yang kudengar setiap hari akhirnya cuma satu sisi cerita.
Sahabatku mulai sering bilang,
“Cowok kayak gitu ngapain dipertahanin?” “Kalau dia sayang, dia nggak bakal gitu.” "Standarmu jangan rendah."
Lalu aku buka TikTok.
FYP-ku isinya juga sama.
“Kalau dia cinta, dia pasti...” “Red flag kalau pasangan...” "Kalau cowok serius nggak akan..."
Awalnya aku merasa tercerahkan.
Lama-lama aku jadi curiga sama semua hal.
Pacarku telat bales? Red flag. Dia pengen main sama temannya? Berarti nggak prioritasin aku.
Dia capek habis kerja dan nggak banyak ngobrol? Katanya effort-nya kurang.
Semua tindakan dia selalu aku ukur pakai standar orang lain.
Aku berhenti melihat dia sebagai manusia. Aku mulai melihat dia sebagai daftar checklist. Kalau ada satu yang nggak sesuai… aku marah.
Puncaknya, waktu dia bilang sesuatu yang sampai sekarang masih aku ingat.
"Aku capek. Rasanya di hubungan ini aku bukan lagi pacarmu. Aku lagi lomba ngelawan pendapat semua orang."
Waktu itu aku malah emosi.
Aku ngerasa dia nggak mau dikritik.
Aku pikir dia cuma mencari alasan.
Beberapa minggu kemudian...
Dia benar-benar pergi.
Nggak ada drama.
Nggak ada teriakan.
Dia cuma bilang,
"Aku sayang sama kamu. Tapi aku nggak bisa terus-terusan menjalin hubungan sama banyak orang. Aku pengennya sama kamu aja."
Kalimat itu baru benar-benar aku pahami setelah semuanya selesai.
Beberapa bulan setelah putus, aku berhenti mengirim screenshot chat ke siapa pun.
Aku berhenti mencari jawaban dari komentar netizen.
Aku mulai sadar kalau algoritma media sosial nggak pernah tahu bagaimana hubungan kami sebenarnya.
TikTok cuma melihat potongan cerita.
Teman-temanku juga cuma mendengar versiku.
Sementara orang yang paling jarang aku dengarkan...
Justru orang yang setiap hari menjalani hubungan itu bersamaku.
Sekarang aku nggak menyalahkan sahabatku.
Aku juga nggak menyalahkan media sosial.
Mereka cuma memberi pendapat.
Yang salah adalah aku, karena menjadikan semua pendapat itu lebih penting daripada komunikasi dengan pasangan sendiri.
Andai waktu bisa diputar ulang, mungkin aku tetap akan meminta saran sesekali. Nggak ada yang salah dengan mendengar sudut pandang orang lain. Tapi sekarang aku tahu, saran seharusnya jadi bahan pertimbangan, bukan kemudi yang mengendalikan hubungan.
Karena pada akhirnya, hubungan bukan dijalani oleh sahabat, bukan oleh netizen, dan bukan oleh orang-orang yang sibuk berkomentar di kolom komentar.
Dan kalau setiap keputusan lebih banyak dipengaruhi suara dari luar daripada percakapan berdua, lambat laun cinta akan kalah oleh kebisingan.
Sekarang dia sudah bahagia dengan hidupnya.
Aku juga sedang belajar memaafkan diriku sendiri.
Tapi ada satu penyesalan yang mungkin akan selalu tinggal di hati.
Aku kehilangan seseorang yang benar-benar ingin bertahan… hanya karena aku terlalu sibuk mendengarkan semua orang, kecuali dia.