Ambar Arum Putri Hapsari
mahasiswa Universitas STEKOM, BERITA CINTAMenulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
Pacaran buat status sosial adalah istilah kata gaul yang sering muncul di lingkungan remaja dan merupakan bentuk hubungan yang dibangun bukan karena rasa melainkan demi pengakuan. Fenomena ini ialah gambaran ketika seseorang menjalin hubungan hanya untuk terlihat laku dianggap keren atau diakui dalam lingkar pertemanan. Bukan soal nyaman atau sayang tapi soal bagaimana hubungan itu terlihat dari luar.
Di usia remaja tekanan sosial sangat kuat. Media sosial pertemanan dan lingkungan sekolah ikut membentuk standar populer. Punya pacar sering dijadikan simbol nilai diri. Akhirnya pacaran bukan lagi tentang koneksi emosional melainkan alat untuk menaikkan posisi sosial.
Pacaran buat status sosial biasanya ditandai dengan hubungan yang sangat fokus pada tampilan. Foto berdua unggahan story dan pengakuan publik jadi prioritas utama. Namun ketika layar mati komunikasi justru minim dan dangkal. Hubungan terasa ramai di depan tapi sepi di dalam.
Gengsi remaja memainkan peran besar di sini. Tak sedikit yang bertahan dalam hubungan yang tidak sehat hanya karena takut dianggap gagal atau kalah saing. Putus dianggap menurunkan harga diri sedangkan bertahan dianggap menjaga citra.
Ironisnya hubungan seperti ini sering terasa melelahkan. Ada tuntutan untuk selalu terlihat bahagia meski hati kosong. Setiap konflik disembunyikan demi menjaga image pasangan ideal. Pada titik ini pacaran berubah jadi performa bukan ruang aman.
Pacaran yang dilandasi status sosial berpotensi mengikis kejujuran emosional. Remaja jadi sulit membedakan mana rasa tulus dan mana dorongan validasi. Lama kelamaan muncul perasaan hampa meski terlihat punya segalanya.
Bagi sebagian orang pengalaman ini menjadi pelajaran penting. Mereka mulai sadar bahwa pengakuan sosial tidak selalu sejalan dengan kebahagiaan pribadi. Punya pasangan tidak otomatis membuat hidup lebih berarti jika hubungan tersebut tidak memberi rasa aman.
Kesadaran ini biasanya datang setelah lelah berpura pura. Saat gengsi tak lagi cukup menutup rasa sepi. Di titik itu remaja belajar bahwa nilai diri tidak ditentukan oleh status hubungan.
Pacaran buat status sosial memang nyata dan umum terjadi. Namun seiring waktu banyak yang tumbuh dan memilih hubungan yang lebih jujur. Bukan untuk dilihat orang lain tapi untuk dirasakan oleh dua orang yang terlibat.