Menulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
0
Kadang dua orang saling punya rasa, saling memberi tanda, tapi tak ada yang benar-benar berani melangkah lebih dulu.
Ada fase dalam hidup di mana seseorang datang dengan cara yang berbeda. Bukan yang paling heboh, bukan yang paling cepat membuat jatuh cinta, tapi justru yang paling membuat nyaman, begitulah awal ceritaku dengannya.
Kami bertemu tanpa rencana besar. Awalnya hanya teman biasa, lalu semakin sering ngobrol, bertukar cerita, dan tanpa sadar saling tahu banyak hal tentang satu sama lain. Dari hal-hal kecil seperti makanan favorit sampai ketakutan terbesar dalam hidup.
Semakin lama, aku merasa ada sesuatu yang berbeda. Cara dia memperhatikanku terasa lebih dari sekadar teman. Cara dia selalu ada saat aku butuh juga membuatku berpikir bahwa mungkin dia punya rasa yang sama.
Masalahnya, aku juga tahu dia pernah terluka cukup dalam dari hubungan sebelumnya dan aku pun sama. Aku pernah terlalu percaya lalu kecewa. Pernah terlalu cepat membuka hati lalu akhirnya ditinggalkan. Luka itu membuatku lebih hati-hati atau mungkin lebih tepatnya, lebih takut.
Saling Memberi Sinyal, Tapi Tidak Ada yang Berani Melangkah
Hubungan kami terus berjalan di area abu-abu. Dekat, tapi tanpa status. Peduli, tapi tanpa kepastian. Kadang dia memberi perhatian yang membuatku yakin. Membawakan hal kecil yang aku suka, mengingat detail-detail tentangku, bahkan kadang cemburu dengan cara yang halus. Tapi tidak pernah ada kalimat yang benar-benar jelas.
Aku juga begitu, ada banyak momen di mana aku ingin jujur soal perasaanku. Tapi selalu ada pikiran, bagaimana kalau ternyata aku salah? Bagaimana kalau semua ini hanya nyaman sepihak?
Akhirnya kami sama-sama diam, sama-sama menunggu, sama-sama takut, dan waktu terus berjalan tanpa arah yang pasti.
Kadang yang Menghalangi Bukan Perasaan, Tapi Ketakutan
Dari pengalaman itu aku sadar, tidak semua hubungan gagal karena tidak ada rasa. Kadang yang membuat semuanya berhenti justru karena dua orang terlalu takut untuk memulai. Takut ditolak, takut kehilangan, takut mengulang luka yang sama.
Padahal tidak semua orang datang untuk menyakiti, beberapa datang untuk menyembuhkan. Tapi jika keduanya terus bersembunyi di balik rasa takut, hubungan itu hanya akan menjadi kemungkinan yang tidak pernah benar-benar hidup.
Dan sampai sekarang, aku masih bertanya-tanya: bagaimana kalau dulu salah satu dari kami berani melangkah lebih dulu? Mungkin jawabannya akan berbeda atau mungkin, setidaknya kami tidak akan terus hidup dalam tanda tanya.