Menulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
0
Kadang luka terbesar bukan datang dari orang yang meninggalkan, tapi dari orang yang datang setelahnya dan membuat luka itu semakin dalam.
Dulu aku pernah punya hubungan dengan seseorang, sebut saja A. Semuanya terasa biasa saja sampai menjelang empat bulan hubungan kami. Saat itu aku menemukan kenyataan yang benar-benar menghancurkan: aku diselingkuhi.
Rasanya sakit, bukan cuma karena kehilangan, tapi karena rasa percaya yang hancur begitu saja. Setelah hubungan itu selesai, aku memilih sendiri cukup lama. Sampai akhirnya, karena merasa kesepian, aku mencoba mencari teman ngobrol lewat aplikasi pencari pasangan. Di sanalah aku bertemu seseorang. Lucunya, ternyata dia adalah pacar dari selingkuhan mantanku, kami sama-sama korban, sama-sama dikhianati, dan dari situlah semuanya bermula.
Kami banyak bercerita, saling menguatkan, dan menjadi tempat pulang untuk luka masing-masing. Beberapa bulan kemudian, dia menyatakan perasaannya dan aku menerimanya. Awalnya semuanya terasa indah. Dia memperlakukanku seperti ratu. Aku merasa sangat dihargai, dicintai, dan untuk pertama kalinya setelah diselingkuhi, aku merasa bisa percaya lagi. Kami menjalani hubungan seperti remaja pada umumnya, bahagia, ringan, dan penuh harapan.
Hubungan yang Awalnya Menyembuhkan, Perlahan Menjadi Luka Baru
Hampir dua tahun berjalan, semuanya berubah. Dia mulai menunjukkan sisi yang belum pernah kulihat sebelumnya. Dia mulai kasar, membentak, bahkan mengangkat tangan. Tapi aku selalu memaklumi, aku tahu dia dibesarkan dalam lingkungan yang keras, terutama dari ayahnya. Aku berpikir mungkin itu trauma yang belum selesai, jadi aku terus bertahan.
Namun semakin lama, setiap kali aku tidak menuruti keinginannya, dia akan marah besar. Ledakannya semakin parah, penuh emosi, dan sering melakukan hal-hal nekat. Anehnya, setelah itu, bahkan belum lima menit, dia langsung meminta maaf. Terus begitu, berulang dan aku mulai takut.
Dua Tahun Diteror , Sampai Seseorang Datang Membantu Aku Pulih
Akhirnya aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan itu. Tapi dia tidak terima. Dia mulai menerorku, mengancam, memaksaku kembali, bahkan mengajak mengakhiri hidup bersama. Saat itu aku benar-benar sendirian. Aku tidak punya tempat bercerita, aku sampai melukai diriku sendiri karena tekanan itu. Hal buruk itu tidak berhenti hanya disitu saja, dia menghubungi teman-temanku, datang ke depan sekolah, ke rumah, bahkan saat aku sedang bersama teman. Selama hampir dua tahun, hidupku seperti tidak pernah tenang.
Sampai akhirnya ada seseorang yg tidak ku sangka kehadiranya,
Dia datang bukan untuk memaksaku membuka hati, tapi membantu menyelesaikan semua yang belum selesai. Dia tetap bertahan meski tahu aku masih berurusan dengan masa lalu. Pelan-pelan, dia menemaniku pulih, meyakinkanku bahwa tidak semua laki-laki datang untuk melukai. Dan dari situ aku belajar, kadang seseorang datang bukan untuk menggantikan masa lalu, tapi untuk membantu kita keluar darinya.