Menulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
0
Kadang perkenalan yang paling tidak disengaja justru membawa cerita yang paling dalam dan dari sanalah semuanya dimulai.
Aku mengenalnya saat aku berada di perantauan. Sebenarnya jarak rumah kami tidak terlalu jauh, hanya terpisah beberapa desa di kota asal. Tapi anehnya, kami justru dipertemukan di tempat dimana aku jauh dari rumah. Awalnya semua terasa biasa, perkenalan yang tidak disengaja, obrolan kecil yang awalnya tanpa tujuan, lalu perlahan menjadi rutinitas yang selalu kutunggu. Satu minggu, dua minggu, sampai akhirnya genap satu bulan kami saling mengenal. Di hari itu, dia menyatakan perasaannya.
Sejak saat itu, hari-hariku berubah. Setiap pagi selalu ada chat sederhana, “selamat pagi, semangat kerjanya ya.” Siang hari, “aku istirahat makan dulu ya.” Sore hari, “aku baru pulang sayang.” Dan malamnya, seperti Genz pada umumnya kami sleep call sampai tertidur.
Rutinitas itu terus berjalan. Sederhana, tapi cukup membuatku merasa punya seseorang yang benar-benar hadir ditengah sepinya kehidupan rantau ini. Meski begitu, hubungan kami tidak selalu mulus. Ada pertengkaran kecil, ada salah paham, dan semuanya terasa lebih rumit dibanding hubungan-hubunganku sebelumnya. Tapi justru dari situ aku merasa hubungan ini nyata.
Pertemuan yang Membuat Semuanya Terasa Lebih Serius
Hari-hari terus berjalan sampai akhirnya aku punya kesempatan pulang sebentar dari kota rantau. Saat itu, aku tidak menyangka dia begitu bersemangat menjemputku di halte. Rasanya hangat, setelah sekian lama hanya bertemu lewat layar dan suara, akhirnya kami benar-benar duduk berhadapan.
Dua minggu di kota kelahiranku terasa begitu cepat. Kami menghabiskan waktu bersama di tempat-tempat sederhana, di jalanan yang biasa kulewati sejak kecil, dan di desa tempat aku tumbuh. Tapi yang paling membuatku terkejut, dia mengenalkanku pada keluarganya. Kata keluarganya, sebelumnya belum pernah ada perempuan yang dia bawa pulang ke rumah. Saat itu, aku merasa ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar hubungan biasa apalagi dengan sambutan hangat dari keluarganya.
Setelah Pertemuan, Rindu Jadi Ujian yang Nyata
Dua minggu ternyata terlalu singkat untuk hal seindah itu. Aku harus kembali ke kota rantau dengan perasaan yang campur aduk. Sedih, berat, tapi juga penuh harapan. Setelah pertemuan itu, aku baru benar-benar paham kalau menahan rindu ternyata tidak mudah. Bahkan untuk sekadar duduk berdua lagi, kami harus menunggu berbulan-bulan.
Tapi anehnya, untuk pertama kali aku tidak takut menunggu. Karena aku yakin, semua ini masih bagian kecil dari perjalanan menuju hal-hal indah yang dulu sering kami bicarakan. Dan dalam diamku aku berharap, dia akan selalu jadi alasan kedua setelah orang tuaku, untuk pulang ke rumah.