Ambar Arum Putri Hapsari
mahasiswa Universitas STEKOM, BERITA CINTAMenulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
Jangan pacaran dengan cowo perokok terdengar seperti larangan berlebihan, tapi ternyata ada alasan serius di baliknya. Bahkan Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, pernah menyampaikan kekhawatiran soal dampak rokok, bukan cuma bagi perokok aktif, tapi juga orang di sekitarnya. Dan dalam konteks hubungan, dampaknya sering kali lebih dekat, lebih personal, dan lebih menyentuh.
Rokok bukan cuma soal asap dan bau. Ia membawa risiko kesehatan, beban emosional, dan konflik gaya hidup yang diam-diam bisa menggerogoti hubungan. Kalau cinta itu soal masa depan, maka kebiasaan merokok sering kali jadi tanda tanya besar.
Secara ilmiah, rokok mengandung ribuan zat berbahaya. Paparan asap rokok, termasuk perokok pasif, meningkatkan risiko penyakit jantung, gangguan pernapasan, hingga kanker. Menkes Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa rokok adalah salah satu penyebab utama penyakit kronis di Indonesia, dan dampaknya tidak berhenti pada satu orang saja.
Dalam hubungan, pasangan perokok membuat kamu ikut terpapar. Bukan cuma saat dia merokok di dekatmu, tapi juga lewat residu asap di pakaian, rambut, dan ruangan. Kalau hubunganmu mengarah ke pernikahan dan anak, risikonya makin besar. Ibu hamil yang terpapar asap rokok berisiko melahirkan bayi dengan berat badan rendah dan masalah kesehatan lain.
Cinta yang sehat seharusnya saling menjaga, bukan saling membahayakan.
Di luar sains, ada sisi emosional yang sering diabaikan. Pacaran dengan cowo perokok itu capeknya pelan-pelan. Janji “nanti aku berhenti” yang berulang, drama bau rokok di mobil, hingga debat kecil yang nggak pernah selesai. Kamu jadi terbiasa mengalah, sementara dia terbiasa nyaman.
Menariknya, banyak yang bertahan bukan karena rokoknya bisa ditoleransi, tapi karena takut kehilangan orangnya. Padahal, cinta bukan tentang menutup mata pada kebiasaan yang merugikan diri sendiri. Kalau sejak pacaran kamu sudah diminta maklum terus, bagaimana nanti saat hidup makin serius?
Golden keyword dari semua ini adalah kesadaran memilih pasangan. Bukan soal membenci perokok, tapi soal berani jujur pada diri sendiri. Kamu berhak punya pasangan yang peduli pada kesehatan, masa depan, dan kenyamananmu.
Kalau kamu memilih menjauh dari cowo perokok, itu bukan drama. Itu bentuk self respect. Dan cinta yang tepat tidak akan membuatmu merasa bersalah karena ingin hidup lebih sehat.