Ambar Arum Putri Hapsari
mahasiswa Universitas STEKOM, BERITA CINTAMenulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
Belakangan ini, media sosial ramai membicarakan seorang content creator muda yang secara terbuka “mempromosikan” pernikahan di usia 19 tahun. Dalam berbagai unggahannya, pernikahan muda dipresentasikan sebagai pencapaian hidup, simbol kedewasaan, bahkan jalan menuju stabilitas emosional dan finansial.
Tidak berhenti di situ, content creator tersebut juga menyampaikan pandangan bahwa perempuan tidak perlu bekerja, bahkan menyebut “perempuan bukan mesin pencetak uang”. Narasi ini kemudian dikemas dengan bahasa ringan, religius, dan seolah sangat logis, sehingga dengan cepat menyebar dan diterima sebagian audiens.
Menariknya, pandangan ini tidak hanya diamini oleh anak muda seusianya, tetapi juga oleh sebagian orang yang telah menjalani hidup lebih lama dan memiliki pengalaman lebih banyak. Menikah di usia belia dianggap sebagai pilihan realistis di tengah ketidakpastian masa depan yang makin kompleks.
Tekanan ekonomi, norma sosial, serta narasi agama sering kali menjadi faktor utama yang mempercepat keputusan menikah muda. Tidak jarang, pernikahan diposisikan sebagai solusi instan atas kebingungan hidup di masa transisi dari remaja menuju dewasa.
Dalam beberapa narasi, menikah bahkan disebut sebagai jalan menuju surga, seolah semua kegelisahan hidup akan selesai setelah akad diucapkan. Padahal, para pengamat sosial berulang kali menegaskan bahwa usia bukan satu-satunya indikator kesiapan menikah.
Kematangan emosional, kemampuan mengelola konflik, kesiapan finansial, dan kesadaran akan tanggung jawab jangka panjang adalah aspek krusial yang sering kali terlewat ketika pernikahan dilakukan terlalu dini. Pernikahan bukan garis akhir dari pencarian jati diri, melainkan awal dari fase kehidupan yang jauh lebih kompleks.
Seiring menguatnya tren menikah muda, muncul pula narasi tandingan yang menyebut bahwa kuliah hanyalah scam. Pandangan ini banyak beredar di platform digital, biasanya berangkat dari pengalaman individu yang merasa pendidikan formal tidak memberikan dampak langsung terhadap kesejahteraan ekonomi.
Kalimat seperti “kuliah ujung ujungnya nganggur” atau “yang penting nikah dulu, rezeki menyusul” semakin dinormalisasi. Bahkan, muncul pernyataan yang lebih ekstrem bahwa perempuan tidak perlu berpendidikan tinggi.
Pertanyaannya kemudian, apakah pernyataan tersebut benar-benar bertujuan memuliakan perempuan, atau justru tanpa sadar membatasi ruang tumbuh dan pilihan hidup mereka?
Secara struktural, kuliah tidak semata-mata ditujukan untuk mencetak tenaga kerja. Pendidikan tinggi berperan membentuk pola pikir kritis, memperluas perspektif, serta membantu seseorang memahami dirinya dan lingkungan sosialnya. Menggeneralisasi kuliah sebagai scam justru menyederhanakan persoalan sistem pendidikan dan menutup ruang diskusi yang lebih sehat tentang reformasi, akses, dan kualitas pendidikan itu sendiri.
Pada akhirnya, menikah muda maupun melanjutkan pendidikan adalah pilihan personal. Namun, ketika sebuah pilihan dikemas sebagai satu-satunya jalan hidup yang benar, di situlah masalah mulai muncul. Hidup bukan tentang siapa yang paling cepat menikah atau siapa yang paling cepat meninggalkan bangku kuliah, melainkan tentang kesiapan menanggung konsekuensi dari setiap keputusan.