Ambar Arum Putri Hapsari
mahasiswa Universitas STEKOM, BERITA CINTAMenulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
Aku cuma mau ngopi.
Serius. Cuma mau minum, ketawa, cerita kerjaan, atau minimal bahas kenapa hidup makin mahal.
Tapi tidak. Karena punya teman, tiap nongkrong selalu bahas cowok itu, rasanya seperti masuk podcast relationship 24 jam tanpa sponsor.
Baru duduk, belum buka menu.
“Eh aku mau cerita…” Dan tentu saja, ceritanya tentang dia lagi. Lagi. Lagi.
Kadang aku mikir, apakah Bumi berhenti berputar kalau hari itu kita tidak membahas cowok?
Ada ekonomi, ada karier, ada mimpi, ada self-growth.
Tapi yang dibahas tetap
Dia chat siapa
Dia like foto siapa
Dia online tapi gak balas
Aku sampai hafal timeline hubungan mereka lebih detail daripada materi kuliah dulu.
Ironisnya, yang dibahas itu cowok yang sama yang minggu lalu dibilang red flag. Yang katanya mau ditinggalin. Yang katanya bikin capek.
Tapi hari ini?
Balikan lagi.
Dan kita harus dengar season terbaru.
Aku gak masalah kalau curhat. Serius. Curhat itu sehat.
Tapi kalau setiap pertemuan isinya hanya itu, rasanya kita bukan lagi circle pertemanan. Kita jadi tim pendukung sinetron tanpa bayaran.
Lucunya, ketika kita coba alihkan topik
“Eh, kerjaan lo gimana?”
“E,h rencana lo tahun ini apa?”
Jawabannya singkat.
Terus balik lagi ke
“Tapi dia tuh ya…”
Aku kadang pengen bilang
Sayang, hidup kamu lebih luas dari sekadar dia.
Tapi takut dibilang gak supportif.
Kadang bukan karena dia bodoh atau terlalu cinta. Kadang, validasi paling gampang memang dari cerita romantis.
Bahas cowo itu seru. Ada drama. Ada konflik. Ada plot twist.
Tapi kalau seluruh identitas dibangun dari hubungan, itu yang berbahaya.
Karena tanpa sadar, kita mengecilkan diri sendiri. Seolah pencapaian terbesar dalam hidup hanyalah diperhatikan pria.
Padahal kamu punya potensi lebih besar daripada sekadar jadi karakter pendukung dalam kisah cinta sendiri.
Aku gak anti cowo.
Aku cuma anti kalau setiap nongkrong berubah jadi rapat evaluasi hubungan.
Coba sekali-kali bahas mimpi.
Bahas investasi.
Bahas trauma masa kecil.
Atau minimal bahas film selain genre percintaan.
Karena jujur, lebih menarik dengar kamu ngomongin ambisi daripada dengar kamu menganalisis last seen seseorang.
Dan buat kamu yang mungkin merasa tersindir, ini bukan benci. Ini lelah.
Lelah karena kamu sebenarnya punya banyak hal keren untuk diceritakan. Tapi selalu memilih topik yang sama.
Nongkrong itu harusnya bikin recharge.
Bukan bikin kita hafal nama mantan orang lain.
Cinta boleh jadi bagian dari hidup.
Tapi jangan jadikan itu satu-satunya isi hidup.
Karena kamu lebih dari sekadar update status hubungan.