Ambar Arum Putri Hapsari
mahasiswa Universitas STEKOM, BERITA CINTAMenulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
Hubungan seharusnya jadi tempat paling aman.
Tapi bagaimana jika pasangan justru berubah menjadi orang yang menuduh tanpa dasar, cemburu berlebihan, lalu berujung pada kekerasan?
Ini bukan sekadar drama hubungan.
Ini sudah masuk ranah kekerasan dalam rumah tangga atau kekerasan dalam relasi pacaran.
Kalau kamu atau seseorang yang kamu kenal mengalaminya, berikut langkah yang harus diambil.
Langkah pertama dan paling penting adalah menjauh dari situasi berbahaya. Jika kekerasan terjadi berulang atau mengancam nyawa, segera cari tempat aman. Bisa ke rumah keluarga, teman terpercaya, atau tempat perlindungan.
Di Indonesia, korban bisa menghubungi Komnas Perempuan untuk mendapatkan informasi dan rujukan bantuan.
Jika dalam kondisi darurat, segera hubungi pihak kepolisian.
Keselamatan selalu lebih penting daripada mempertahankan hubungan.
Sering kali pelaku menyangkal perbuatannya. Karena itu, dokumentasi sangat penting.
Simpan bukti chat ancaman.
Foto luka atau kerusakan barang.
Catat tanggal dan kronologi kejadian.
Bukti ini akan sangat membantu jika korban ingin menempuh jalur hukum atau melapor.
Kekerasan bukan urusan privat yang harus ditutup rapat. Negara memiliki payung hukum melalui Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga.
Korban bisa melapor ke Unit PPA di kepolisian atau mencari pendampingan hukum melalui lembaga bantuan hukum terdekat.
Melapor bukan berarti mempermalukan pasangan. Melapor berarti melindungi diri.
Kekerasan tidak hanya meninggalkan luka fisik, tetapi juga trauma emosional. Rasa takut, cemas, dan tidak percaya diri bisa muncul berkepanjangan.
Mencari bantuan psikolog atau konselor adalah langkah yang bijak. Banyak layanan konseling kini tersedia secara daring maupun tatap muka.
Kamu tidak lemah karena butuh bantuan. Kamu sedang berusaha pulih.
Banyak korban merasa bersalah karena dianggap memicu kemarahan pasangan. Padahal, tidak ada alasan yang membenarkan kekerasan.
Cemburu berlebihan.
Tuduhan tanpa bukti.
Kontrol posesif.
Itu bukan tanda cinta. Itu tanda relasi tidak sehat.
Kekerasan adalah pilihan pelaku. Bukan kesalahan korban.
Kalimat seperti
Dia cuma khilaf
Dia lagi emosi
Dia sebenarnya sayang
Sering membuat korban bertahan dalam siklus berbahaya.
Padahal, jika tuduhan berubah jadi anaya, itu sudah melewati batas.
Hubungan yang sehat dibangun dengan komunikasi, bukan intimidasi. Dengan rasa aman, bukan rasa takut.
Kalau kamu sedang berada dalam situasi seperti ini, ingat satu hal
Kamu berhak dicintai tanpa dilukai.
Dan keluar dari hubungan yang menyakiti bukan kegagalan. Itu keberanian.