Ambar Arum Putri Hapsari
mahasiswa Universitas STEKOM, BERITA CINTAMenulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
Validasi publik adalah pengakuan, persetujuan, atau penerimaan yang kita harapkan dari orang lain terhadap diri, pilihan, maupun kehidupan yang kita jalani. Di era media sosial, validasi bisa datang dalam bentuk jumlah likes, komentar, views, atau pujian dari orang-orang di sekitar. Tidak ada yang salah dengan merasa senang saat diapresiasi. Namun, ketika kebahagiaan kita sepenuhnya bergantung pada penilaian orang lain, proses penyembuhan diri atau healing menjadi jauh lebih sulit.
Tanpa disadari, kita mulai mengukur nilai diri dari respons orang lain. Hari yang tadinya terasa menyenangkan bisa berubah mengecewakan hanya karena unggahan tidak mendapat perhatian seperti yang diharapkan. Kita merasa harus terus membuktikan bahwa hidup baik-baik saja, padahal di dalam hati masih ada luka yang belum selesai.
Healing yang sesungguhnya bukan tentang terlihat bahagia di depan banyak orang. Healing adalah tentang berdamai dengan diri sendiri, bahkan ketika tidak ada satu pun yang memberikan tepuk tangan.
Banyak orang mengira bahwa cara terbaik untuk bangkit setelah gagal, putus cinta, atau mengalami kekecewaan adalah menunjukkan kepada dunia bahwa mereka baik-baik saja. Akhirnya, mereka sibuk mengunggah pencapaian, perjalanan, atau kebahagiaan dengan harapan mendapatkan pengakuan.
Masalahnya, validasi dari luar hanya memberikan rasa puas yang sementara. Setelah pujian berhenti datang, muncul keinginan untuk mendapatkan lebih banyak lagi. Siklus ini terus berulang hingga tanpa sadar kita hidup demi respons orang lain.
Akibatnya, kita tidak pernah benar-benar memberi waktu kepada diri sendiri untuk merasakan sedih, kecewa, atau kehilangan. Semua emosi itu ditutupi oleh kebutuhan untuk terlihat kuat.
Padahal, luka tidak sembuh karena banyaknya orang yang berkata, "Kamu hebat."
Luka sembuh ketika kita berani mengakui bahwa kita pernah terluka, menerima kenyataan yang ada, lalu perlahan melanjutkan hidup tanpa terus mencari pembenaran dari luar.
Tidak semua proses harus dipublikasikan. Ada pertumbuhan yang justru menjadi lebih bermakna ketika dijalani dalam diam.
Salah satu tanda bahwa proses healing mulai berjalan adalah ketika kamu tidak lagi merasa harus menjelaskan semua keputusan kepada orang lain. Kamu berhenti merasa bersalah karena tidak memenuhi ekspektasi semua orang, dan mulai bertanya, "Apakah keputusan ini membuatku lebih tenang?"
Kamu juga mulai memahami bahwa nilai dirimu tidak bertambah karena banyak dipuji, dan tidak berkurang hanya karena ada yang mengkritik.
Ini bukan berarti menutup diri dari masukan. Kritik yang membangun tetap penting. Namun, kamu tidak lagi menggantungkan harga diri pada komentar, jumlah pengikut, atau pengakuan dari lingkungan sekitar.
Ada hari-hari ketika tidak ada yang memperhatikan usahamu. Tidak ada yang memberi selamat atas kemajuanmu. Tidak ada yang tahu betapa kerasnya kamu berjuang. Dan itu tidak masalah.
Karena tujuan healing bukan agar semua orang melihat perubahanmu, melainkan agar kamu sendiri bisa merasakan kedamaian yang selama ini hilang.
Pada akhirnya, healing dimulai saat kamu berhenti mengejar validasi publik dan mulai membangun hubungan yang lebih sehat dengan dirimu sendiri. Ketika kamu tidak lagi hidup untuk memenuhi ekspektasi orang lain, kamu akan menemukan bahwa ketenangan tidak datang dari banyaknya tepuk tangan, melainkan dari kemampuan menerima diri apa adanya. Sebab orang yang paling perlu mengakui perjuanganmu bukanlah dunia, tetapi dirimu sendiri.