Ambar Arum Putri Hapsari
mahasiswa Universitas STEKOM, BERITA CINTAMenulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
Komitmen adalah keputusan sadar untuk tetap bertahan, bertanggung jawab, dan menjaga sebuah hubungan, bahkan ketika perasaan tidak selalu berada di titik yang paling menyenangkan. Sayangnya, tidak semua orang siap menjalani bagian ini. Ada yang sejak awal memang menghindari komitmen, tetapi ada juga yang lebih membingungkan: awalnya berkata ingin serius, lalu tiba-tiba berubah, mengingkari ucapannya sendiri, bahkan menyalahkan orang lain ketika hubungan mulai bermasalah.
Hal seperti ini sering membuat pasangannya bertanya-tanya, "Dulu dia yang bilang mau serius. Kenapa sekarang malah seperti orang yang berbeda?"
Jawabannya tidak selalu sederhana. Perubahan sikap bisa dipengaruhi banyak faktor. Namun, satu hal yang pasti, kata-kata di awal hubungan tidak selalu mencerminkan kesiapan seseorang untuk berkomitmen dalam jangka panjang.
Di awal hubungan, banyak orang berbicara berdasarkan perasaan.
"Aku serius sama kamu."
"Aku maunya sama kamu."
"Aku nggak akan ninggalin kamu."
Kalimat-kalimat itu bisa saja diucapkan dengan tulus pada saat itu. Namun, ketika hubungan mulai memasuki fase yang membutuhkan tanggung jawab, sebagian orang baru menyadari bahwa mencintai ternyata tidak semudah mengatakannya.
Mulailah muncul konflik.
Perbedaan pendapat.
Kebutuhan untuk saling mengalah.
Tanggung jawab emosional.
Di sinilah karakter seseorang mulai terlihat.
Orang yang benar-benar siap berkomitmen akan berusaha mencari solusi. Sebaliknya, orang yang belum siap sering memilih jalan yang lebih mudah, yaitu menghindar.
Yang lebih menyakitkan, ada yang kemudian mengubah narasi.
Dulu ia berkata siap menjalani hubungan.
Sekarang ia berkata, "Kamu yang terlalu banyak menuntut."
Dulu ia yang mengejarmu.
Sekarang ia berkata, "Aku nggak pernah minta hubungan ini jadi seserius ini."
Inilah yang sering membuat pasangan merasa bingung. Bukan hanya karena ditinggalkan, tetapi juga karena kenyataan yang terjadi bertolak belakang dengan semua ucapan yang pernah diberikan.
Dalam beberapa kasus, ada pula orang yang memainkan peran sebagai korban (playing the victim). Alih-alih mengakui bahwa dirinya berubah atau belum siap dengan komitmen, ia justru menyalahkan keadaan, pasangan, atau hubungan itu sendiri agar tidak terlihat sebagai pihak yang bertanggung jawab.
Tentu, tidak semua orang yang mengakhiri hubungan sedang melakukan playing victim. Ada kalanya hubungan memang tidak lagi sehat atau tidak lagi sejalan. Namun, menghindari tanggung jawab dengan memutarbalikkan fakta adalah hal yang berbeda.
Pelajaran terbesar dalam hubungan adalah jangan terlalu cepat mempercayai kata-kata. Percayalah pada kebiasaan, tindakan, dan konsistensi.
Orang yang siap berkomitmen tidak hanya hadir saat semuanya menyenangkan. Ia juga hadir ketika hubungan sedang diuji.
Ia tidak menghilang setiap kali ada masalah.
Ia tidak membuatmu terus-menerus menebak isi pikirannya.
Dan yang paling penting, ia berani mengakui jika memang sudah tidak mampu melanjutkan hubungan, tanpa harus menjadikanmu kambing hitam demi menjaga citra dirinya.
Kalau hari ini kamu sedang menghadapi seseorang yang mudah mengingkari ucapannya, jangan buru-buru menyalahkan dirimu sendiri. Bisa jadi, masalahnya bukan karena kamu kurang baik, tetapi karena ia belum memiliki kedewasaan emosional untuk memegang komitmen yang pernah ia buat.
Pada akhirnya, komitmen tidak dibuktikan oleh seberapa indah janji yang diucapkan di awal hubungan. Komitmen dibuktikan oleh keberanian seseorang untuk tetap bertanggung jawab ketika hubungan mulai terasa sulit. Karena siapa pun bisa berkata "aku akan selalu ada", tetapi tidak semua orang mampu membuktikannya saat kenyataan mulai menguji ucapannya.