Menulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
0
Terlalu empati adalah kondisi ketika seseorang memiliki kepedulian yang sangat besar terhadap perasaan dan kesulitan orang lain hingga sering mengorbankan kebutuhan dirinya sendiri. Sementara itu, haus validasi merupakan kecenderungan untuk terus mencari pengakuan, pujian, atau rasa dibutuhkan dari orang lain agar merasa berharga. Sekilas keduanya terlihat mirip, tetapi memiliki motivasi yang berbeda. Memiliki pasangan yang peduli kepada banyak orang tentu terdengar menyenangkan. Ia mudah iba, ringan tangan membantu siapa saja, dan sulit menolak permintaan tolong. Sifat seperti ini sering dianggap sebagai tanda bahwa ia memiliki hati yang baik.
Namun, pernahkah kamu bertanya apakah semua bantuan yang ia berikan benar-benar lahir dari empati, atau justru berasal dari kebutuhan untuk terus merasa dibutuhkan dan diakui oleh orang lain? Pertanyaan ini penting karena tidak semua tindakan baik memiliki motivasi yang sama. Ada orang yang membantu karena memang ingin meringankan beban orang lain. Ada pula yang merasa tidak nyaman jika tidak dianggap berguna, sehingga terus mencari kesempatan untuk menjadi penyelamat. Perbedaannya mungkin terlihat tipis, tetapi dampaknya terhadap hubungan bisa sangat besar.
Empati yang Sehat Tidak Mengorbankan Hubungan
Seseorang yang memiliki empati sehat biasanya tetap mampu menetapkan batasan. Ia membantu ketika memang mampu, tetapi juga tahu kapan harus berkata tidak. Ia tidak merasa bersalah jika sesekali memilih memprioritaskan pasangan, keluarga, atau dirinya sendiri. Sebaliknya, orang yang haus validasi sering kali merasa harus selalu hadir untuk semua orang. Ia takut dianggap egois jika menolak permintaan bantuan. Akibatnya, waktu, tenaga, bahkan perhatian yang seharusnya diberikan kepada pasangan justru habis untuk memenuhi kebutuhan orang lain.
Tidak jarang, pasangan merasa diabaikan karena melihat orang lain selalu mendapat prioritas. Setiap kali ada teman yang membutuhkan bantuan, ia langsung datang. Namun, ketika pasangannya sendiri membutuhkan perhatian, ia justru kehabisan energi. Jika pola seperti ini terus berulang, hubungan dapat dipenuhi rasa kecewa dan ketidakadilan.
Cobalah Melihat Motivasi di Balik Sikapnya
Daripada langsung memberi label bahwa pasangan haus validasi, cobalah memahami alasan di balik perilakunya. Mungkin sejak kecil ia terbiasa mendapatkan penghargaan hanya ketika membantu orang lain. Bisa juga ia tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya baru berharga jika selalu berguna bagi lingkungan. Jika memang demikian, yang dibutuhkan bukanlah kritik, melainkan komunikasi yang jujur dan penuh empati. Bicarakan bagaimana perilakunya memengaruhi hubungan, lalu dorong ia untuk mulai membangun batasan yang sehat.
Membantu orang lain tentu merupakan hal yang baik. Namun, membantu tidak seharusnya dilakukan hingga mengabaikan kebutuhan diri sendiri atau orang-orang terdekat. Pasangan yang sehat mampu menyeimbangkan kepedulian kepada lingkungan dengan tanggung jawab terhadap hubungan yang sedang dijalaninya.
Pada akhirnya, empati dan validasi memang bisa terlihat serupa dari luar. Perbedaannya terletak pada tujuan. Empati lahir dari keinginan untuk peduli, sedangkan haus validasi lahir dari kebutuhan untuk terus diakui. Memahami perbedaan ini dapat membantu membangun hubungan yang lebih sehat, saling menghargai, dan tidak dipenuhi pengorbanan yang berlebihan.