Ambar Arum Putri Hapsari
mahasiswa Universitas STEKOM, BERITA CINTAMenulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
Komentar orang lain adalah sesuatu yang hampir tidak bisa dihindari selama kita hidup berdampingan dengan banyak orang. Apalagi di era media sosial, siapa pun bisa berpendapat tentang hidup kita hanya dari satu foto, satu video, atau sepotong cerita yang mereka lihat. Ironisnya, orang yang paling keras menghakimi sering kali justru adalah mereka yang sama sekali tidak mengenal siapa diri kita.
Mereka tidak tahu bagaimana perjuanganmu, tidak pernah berada di sisimu saat kamu jatuh, dan tidak memahami alasan di balik setiap keputusan yang kamu ambil. Namun, hanya dalam hitungan detik, mereka merasa cukup yakin untuk memberi label, mengkritik, bahkan menghakimi.
Kalau terus dipikirkan, komentar seperti itu bisa menguras energi. Kita mulai mempertanyakan diri sendiri, takut menjadi bahan pembicaraan, hingga kehilangan keberanian untuk menjalani hidup sesuai pilihan kita. Padahal, tidak semua pendapat layak dijadikan pegangan.
Salah satu hal yang sering terlupakan adalah orang lain hanya mengenal sebagian kecil dari hidupmu. Mereka melihat apa yang tampak di permukaan, bukan keseluruhan cerita.
Seseorang mungkin menganggapmu sombong karena kamu pendiam. Padahal, kamu hanya sedang lelah.
Ada yang mengira kamu gagal karena usahamu belum membuahkan hasil. Padahal, mereka tidak tahu berapa kali kamu bangkit setelah mengalami kegagalan.
Ada pula yang menyebutmu berubah hanya karena sekarang kamu lebih berani menetapkan batasan. Padahal, yang berubah bukan sikapmu, melainkan caramu menjaga kesehatan mental.
Masalahnya, kita sering memberikan terlalu banyak ruang bagi komentar orang yang bahkan tidak mengenal perjalanan hidup kita. Kita membiarkan satu kalimat dari orang asing mengalahkan puluhan hal baik yang sudah kita lakukan.
Padahal, mereka hanya menilai potongan cerita, sementara kamulah yang menjalani seluruh isi bukunya.
Menjadi pribadi yang terbuka terhadap kritik memang baik. Namun, tidak semua komentar memiliki nilai yang sama.
Ada kritik yang datang dari orang yang benar-benar peduli dan ingin melihatmu berkembang. Kritik seperti ini layak didengar karena biasanya disampaikan dengan niat yang baik dan disertai solusi.
Sebaliknya, ada komentar yang hanya bertujuan menjatuhkan, memancing emosi, atau sekadar ingin ikut berpendapat tanpa memahami situasi. Komentar seperti ini tidak selalu membutuhkan balasan.
Belajarlah memilih suara mana yang layak kamu dengarkan. Jangan sampai pendapat dari orang yang tidak mengenalmu lebih berpengaruh daripada keyakinanmu terhadap diri sendiri.
Ingat, kamu tidak bertanggung jawab untuk membuat semua orang menyukaimu. Selama kamu menjalani hidup dengan jujur, menghormati orang lain, dan terus berusaha menjadi pribadi yang lebih baik, tidak ada alasan untuk terus hidup di bawah bayang-bayang penilaian mereka.
Pada akhirnya, berdamai dengan komentar orang yang tidak mengenalmu bukan berarti berhenti peduli terhadap pendapat siapa pun. Berdamai berarti menyadari bahwa kamu tidak bisa mengendalikan apa yang orang lain katakan, tetapi kamu selalu bisa memilih bagaimana meresponsnya. Jangan serahkan ketenanganmu kepada orang-orang yang bahkan tidak mengenal siapa dirimu sebenarnya. Sebab nilai dirimu tidak ditentukan oleh komentar mereka, melainkan oleh bagaimana kamu menghargai dirimu sendiri setiap hari.