Ambar Arum Putri Hapsari
mahasiswa Universitas STEKOM, BERITA CINTAMenulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
Penilaian orang lain adalah sesuatu yang tidak akan pernah benar-benar bisa kita kendalikan. Apa pun yang kita lakukan, akan selalu ada yang memuji, mengkritik, membandingkan, bahkan meragukan. Masalahnya, banyak orang tanpa sadar menjadikan penilaian tersebut sebagai kompas utama dalam menjalani hidup.
Kita memilih jurusan karena dianggap bergengsi, bekerja di tempat tertentu demi terlihat sukses, membeli sesuatu agar dianggap mampu, bahkan menahan diri untuk mencoba hal baru karena takut dicap gagal. Lama-kelamaan, hidup terasa seperti panggung tempat kita terus berusaha memenuhi ekspektasi orang lain.
Padahal, hidup yang terus dijalani demi penilaian orang lain sering membuat kita lelah. Bukan karena aktivitasnya terlalu berat, tetapi karena kita terus berusaha menjadi versi yang disukai semua orang.
Salah satu kenyataan yang paling sulit diterima adalah bahwa tidak ada keputusan yang akan membuat semua orang setuju. Ketika kamu fokus membangun karier, ada yang berkata kamu terlalu ambisius. Ketika memilih hidup lebih sederhana, ada yang menganggapmu kurang berkembang.
Saat menikah muda, ada yang bilang terburu-buru. Saat menunda menikah, ada yang bertanya kapan menyusul. Ketika aktif di media sosial, dianggap mencari perhatian. Ketika memilih diam, dianggap tidak punya kehidupan.
Jika semua komentar itu dijadikan patokan, kita akan terus berubah mengikuti arah angin. Hari ini mengejar pengakuan dari satu kelompok, besok berusaha memenuhi standar kelompok lain. Akibatnya, kita kehilangan kesempatan untuk bertanya pada diri sendiri: “Apa yang sebenarnya aku inginkan?”
Hidup demi penilaian orang lain juga membuat kita sulit menikmati proses. Setiap langkah terasa seperti ujian yang harus mendapat nilai bagus dari lingkungan sekitar.
Berhenti hidup demi penilaian orang lain bukan berarti mengabaikan semua masukan. Kritik yang membangun tetap penting, begitu juga nasihat dari orang yang benar-benar peduli. Namun, ada perbedaan antara mendengarkan pendapat dan menyerahkan kendali hidup.
Mulailah dengan mengenali apa yang membuatmu merasa hidup. Apa yang membuatmu bersemangat? Nilai apa yang ingin kamu pegang? Tujuan apa yang ingin kamu capai, meski mungkin tidak semua orang memahaminya?
Ketika keputusan diambil berdasarkan kesadaran diri, kamu akan lebih siap menerima konsekuensinya. Kamu tidak lagi terus-menerus menyalahkan orang lain ketika hasilnya tidak sesuai harapan.
Selain itu, ingatlah bahwa sebagian besar orang sebenarnya lebih sibuk memikirkan hidup mereka sendiri daripada terus mengawasi hidupmu. Penilaian yang hari ini terasa besar, mungkin besok sudah dilupakan.
Pada akhirnya, hidup bukan perlombaan untuk mendapatkan persetujuan sebanyak mungkin. Hidup adalah perjalanan untuk menjadi pribadi yang jujur terhadap diri sendiri. Tidak semua orang akan mengerti pilihanmu, dan itu tidak apa-apa. Selama pilihan tersebut tidak merugikan orang lain dan sesuai dengan nilai yang kamu yakini, kamu berhak menjalaninya.
Karena ketika kamu terlalu sibuk hidup demi penilaian orang lain, ada satu hal yang sering terlupakan: orang yang paling lama hidup bersama dirimu adalah dirimu sendiri.