Ambar Arum Putri Hapsari
mahasiswa Universitas STEKOM, BERITA CINTAMenulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
Di era sekarang, kata cut off terasa mudah sekali diucapkan. Sekali kecewa, langsung blokir. Sekali disakiti, langsung hilang tanpa jejak. Seolah memutus hubungan adalah solusi paling cepat untuk semua luka.
Tapi pertanyaannya, apakah cut-off selalu tepat? Atau kadang hanya bentuk emosi sesaat?
Cut off seseorang berarti dengan sadar menghentikan komunikasi dan akses terhadap hidup kita. Ini bukan sekadar menjauh sementara. Ini keputusan tegas.
Dan keputusan seperti itu tidak pernah netral.
Ada kondisi di mana cut-off justru sangat penting. Misalnya ketika kamu berhadapan dengan manipulasi, toxic relationship, perselingkuhan berulang, atau kekerasan verbal dan emosional.
Dalam situasi seperti itu, menjaga jarak bukan drama. Itu perlindungan diri.
Menurut American Psychological Association, batasan yang sehat dalam hubungan berperan penting dalam menjaga kesehatan mental dan harga diri. Jika seseorang terus-menerus melanggar batasan, menjauh bisa menjadi langkah penyelamatan.
Karena tidak semua hubungan layak dipertahankan hanya demi terlihat dewasa.
Kadang dewasa justru berarti berani pergi.
Masalahnya, budaya instan membuat kita mudah memutuskan hubungan tanpa komunikasi. Salah paham sedikit, langsung hilang. Tidak cocok sedikit, langsung blokir.
Padahal tidak semua konflik adalah red flag.
Ada hubungan yang sebenarnya bisa diperbaiki dengan komunikasi jujur. Ada pertemanan yang hanya butuh klarifikasi. Ada pasangan yang hanya butuh waktu untuk belajar memahami.
Jika setiap ketidaknyamanan langsung diakhiri dengan cut-off, kita tidak pernah belajar mengelola emosi.
Dan tanpa sadar, kita bisa jadi orang yang sulit membangun koneksi jangka panjang.
Sebelum memutuskan cut off, tanyakan pada diri sendiri
Apakah aku sudah mengomunikasikan batasanku
Apakah aku sudah memberi ruang untuk perubahan
Atau aku hanya sedang marah
Kalau jawabannya karena keselamatan mental dan harga diri, maka keputusan itu valid.
Tapi kalau hanya karena ego yang tersentuh, mungkin yang perlu diperbaiki bukan hubungannya, melainkan cara kita merespons konflik.
Cut off itu penting ketika hubungan menggerus dirimu. Ketika kamu merasa lebih sering terluka daripada bertumbuh. Ketika kehadiran seseorang membuatmu kehilangan ketenangan.
Namun, cut-off bukan simbol kekuatan jika dilakukan tanpa refleksi.
Kekuatan yang sebenarnya adalah tahu kapan bertahan dan kapan melepaskan.
Karena menjaga kesehatan mental itu penting. Tapi membangun kedewasaan emosional juga sama pentingnya.
Tidak semua orang harus tinggal.
Tapi tidak semua orang juga harus dihilangkan.