Ambar Arum Putri Hapsari
mahasiswa Universitas STEKOM, BERITA CINTAMenulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
Move on itu sering terasa berat bukan karena orangnya masih ada, tapi karena pikirannya masih tinggal.
Kamu mungkin sudah tidak berkomunikasi, sudah tidak bertemu, tapi bayangannya masih muncul—tiba-tiba, tanpa diundang.
Dan di momen seperti itu, yang kamu butuhkan bukan banyak nasihat. Kadang, cukup satu kalimat yang benar-benar “kena”.
“Yang pergi bukan untuk kembali, tapi untuk digantikan oleh yang lebih tepat.”
Karena kalimat ini mengubah cara kamu melihat kehilangan.
Selama ini, kamu mungkin melihat kepergian sebagai sesuatu yang “diambil” dari hidupmu. Sesuatu yang harusnya masih ada.
Padahal, bisa jadi itu adalah proses seleksi. Bukan semua orang ditakdirkan untuk tinggal.
Dengan sudut pandang ini, kamu tidak lagi fokus pada “kenapa dia pergi”, tapi mulai melihat “apa yang sedang dipersiapkan untukmu”.
Penting untuk dipahami, “digantikan” di sini bukan berarti buru-buru mencari orang baru.
Tapi lebih ke membuka diri bahwa hidup tidak berhenti pada satu orang.
Ada kemungkinan lain, ada cerita lain, dan ada seseorang yang mungkin lebih tepat—tapi tidak akan datang kalau kamu masih terus melihat ke belakang.
Akan ada momen di mana kamu kembali mengingat. Itu normal.
Di saat seperti itu, ulangi kalimat ini. Bukan untuk memaksa lupa, tapi untuk mengingatkan diri bahwa kamu tidak kehilangan segalanya.
Kamu hanya sedang diarahkan ke sesuatu yang lebih baik.
Kadang, yang menahan kita bukan kenangan, tapi cara kita memaknainya.
Satu kalimat sederhana bisa jadi titik balik—bukan karena ajaib, tapi karena membantu kamu melihat dengan cara yang berbeda.
Dan dari situ, pelan-pelan… kamu mulai benar-benar melepaskan.