Ambar Arum Putri Hapsari
mahasiswa Universitas STEKOM, BERITA CINTAMenulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
Kata move on sering terdengar sederhana, tapi menjalaninya tidak selalu semudah itu.
Banyak orang mengira move on berarti melupakan seseorang sepenuhnya. Padahal, kenyataannya jauh lebih dalam daripada itu. Ada proses, ada emosi, dan ada waktu yang tidak bisa dipaksakan.
Move on adalah proses ketika seseorang mulai menerima bahwa sesuatu—baik itu hubungan, harapan, atau kenangan—sudah berakhir, dan memilih untuk melanjutkan hidup tanpa terus terikat pada masa lalu.
Ini bukan soal seberapa cepat kamu bisa melupakan, tapi seberapa tulus kamu bisa menerima.
Salah satu kesalahpahaman terbesar adalah menganggap move on = lupa.
Padahal, kamu masih bisa:
mengingat,
tersenyum saat mengenang,
Tanpa lagi merasa sakit seperti dulu.
Move on bukan menghapus, tapi mengubah cara kamu memandang kenangan itu.
Karena yang ditinggalkan bukan cuma orangnya, tapi juga:
harapan,
kebiasaan,
Dan versi diri kamu saat bersama dia.
Itulah yang sering membuat proses move on terasa berat.
Bukan saat kamu tidak ingat lagi, tapi saat:
kamu tidak lagi menunggu,
tidak lagi berharap dia kembali,
Dan mulai fokus pada hidupmu sendiri.
Perlahan, hidup terasa lebih ringan.
Setiap orang punya waktunya masing-masing.
Ada yang cepat, ada yang butuh waktu lama. Dan itu tidak masalah. Move on bukan perlombaan.
Yang penting, kamu tidak terus-menerus terjebak di tempat yang sama.
Move on adalah tentang menerima dan melanjutkan hidup, bukan melupakan sepenuhnya.
Ini adalah proses berdamai dengan masa lalu, agar kamu bisa membuka diri untuk hal-hal baru di masa depan.